Berita Surabaya
Dua Residivis Penipuan di Surabaya Bobol ATM Korbannya hingga Rp 60 Juta, begini Modusnya
Aksi kejahatan menyasar korban di sebuah mesin Anjuntan Tunai Mandiri (ATM) kembali terjadi di Surabaya.
Penulis: Firman Rachmanudin | Editor: Parmin
SURYA - Aksi kejahatan menyasar korban di sebuah mesin Anjuntan Tunai Mandiri (ATM) kembali terjadi di Surabaya.
Jika beberapa waktu lalu Unit Resmob Satreskrim Polrestabes Surabaya berhasil mengungkap praktek kejahatan dengan modus ganjal mesin ATM menggunakan tusuk gigi.
Kali ini giliran Unit Jatanras Satreskrim Polrestabes Surabaya membongkar sindikat penipuan yang menyasar korban saat berada di mesin ATM.
Empat pelaku ditangkap dengan peran masing-masing. Dua di antaranya merupakan residivis kasus sama yang pernah ditahan tiga bulan di rutan Medaeng 2017 lalu.
Mereka adalah M Fachrizal (39) warga Jalan Kalingga Tengah 10 Rt 6/ Rw 16, Srondol Wetan, Semarang, Nasir (54) warga Jalan Tanah kusir Rt 4 Rw 10, Kel. Kebayoran Lama Selatan, Kec. Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, M Yahmin (45) warga Jalan Tinombo no 9, Bantaing, Sulawesi Selatan dan Hendrik Jaya (35) warga Jalan Andi Pangeran Patarani Nomor107, Kecamatan pancarijang, Kabupaten Rappang.
"Tersangka Fachrizal dan Nasir residivis kasus penipuan," kata Wakapolrestabes Surabaya, AKBP Leonard Simarmata, Senin (4/11/2019).
Kronologi kejahatan tersebut bermula saat korban mendatangi sebuah minkmarket di depan sebuah hotel kawasan Gubeng Surabaya.
Saat itu, empat tersangka sudah merencanaka aksi dengan mengincar sasaran secara acak.
Begitu melihat korban bernama Eko Supriyanto (47) warga Sampit, tersangka Fachrizal kemudian mendekatinya.
"Tersangka Fachrizal semula mengajak berkenalan biasa. Kemudian, tersangka yang mengaku bernama Ramzi Bilal asal Brunei itu mengajak korban berbisnis cangkang sawit yang ada di Kalimantan dengan profit sebesar 5 persen. Semua modal ditanggung tersangka," beber Leo.
Korban yang semula tak yakin, kemudian diyakinkan oleh tersangka lain yakni Nasir.
"Muncul tersangka Nasir, mengaku sebagai orang Kalimantan juga, satu daerah dengan korban. Itu setelah tersangka Fachrizal memberitahu melalui pesan di ponselnya. Nasir mencoba meyakinkan jika bisnis tersebut menguntungkan," lanjut Leo.
Setelah itu, Nasir menantang Fachrizal untuk memperlihatkan saldo di kartu ATM miliknya.
Saat itu saldo di ATM yang digunakan tersangka muncul angka Rp 1 Milyar. Dari situ Nasir kembali memancing korban menunjukkan uang di ATMnya.
Korban pun tertantang dan menunjukkan saldo di kartu ATMnya. Darisanalah petaka korban dimulai.