Rabu, 22 April 2026

Berita Surabaya

Berawal Suka Corat-coret, Dinar Safitri Kreasikan Doodle dalam Produk Handmade

Produk DinART sebisa mungkin merangkul semua kalangan mulai dari remaja hingga dewasa. Oleh karena itu, harga yang dibandrol juga bervariatif.

Penulis: Christine Ayu Nurchayanti | Editor: Cak Sur
Istimewa
Dinar Safitri dan produk-produk handmade bermotif doodle miliknya, DinART. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Indie creativepreneur, Dinar Safitri mengaku sejak belia memiliki hobi corat-coret untuk mengisi waktu luang.

Tak mengira, hobi corat-coret tersebut kini membawanya membuka usaha kreasi doodle dalam beragam produk handmade.

"Saya bikin usaha ini sejak 2013. Sebelumnya, saya seorang pegawai, lama kelamaan saya merasa bosan. Akhirnya memutuskan untuk bikin sesuatu dari hobi sejak kecil yaitu gambar," ungkap Dinar.

DinART, nama brand yang Dinar Safitri usung.

DinART, ungkap kreator doodle ini, memberi pilihan berbagai produk handmade dengan motif-motif doodle berwarna hitam putih. Mulai dari stiker, notebook, sling bag, round bag, dompet, outer dan lain sebagainya.

"DinART menjual produk-produk dengan motif doodle. Dulu kalau nggak ada kerjaan, saya suka corat-coret di kertas, akhirnya saya aplikasikan ke produk. Ternyata doodle juga bisa dijadikan bisnis," ungkap Dinar, Rabu (4/9/2019).

Untuk terus dapat survive dalam industri kreatif, Dinar mengatakan, strategi yang ia gunakan ialah konsisten dengan ciri khas motif doodle-nya.

"Ciri khas saya yaitu warna hitam putih. Secara konsisten saya selalu pakai warna ini. Saya ingin mengatakan bahwa meskipun warnanya basic, tapi hasilnya tetap indah. Lagi pula kalau misalnya kita sedang coret-coret kan jarang bawa spidol yang warnanya lengkap," ungkapnya.

Selain itu, lanjutnya, ia banyak menghadirkan karakter kartun serta hiasan detail floral dan garis.

"Untuk menemukan style ini, saya menghabiskan lima sketchbook. Saya pilih motif apa yang konsisten saya hadirkan," Dinar menjelaskan.

Selain menghadirkan barang ready stock, produk DinART juga dapat di-custom. Seperti gambar karakter di talenan, pigura, notebook dan lain-lain.

"Untuk costum, talenan misalnya, caranya langsung siapkan talenan lalu gambar karakter di atasnya. Untuk barang ready stock, terlebih dahulu saya gambar di atas kertas. Kemudian saya scan. Setelah itu, saya pakai jasa printing di atas kain. Baru saya ke penjahit untuk bikin tas, dompet dan lain sebagainya," ungkap Dinar.

Produk DinART sebisa mungkin merangkul semua kalangan mulai dari remaja hingga dewasa. Oleh karena itu, harga yang dibandrol juga bervariatif.

"Harga paling murah yaitu Rp 5 ribu untuk produk stiker. Kalau yang paling mahal sekitar Rp 400 ribu yaitu busana," paparnya.

Melalui hobinya ini, Dinar mengaku bisa mendapatkan omzet mulai Rp 2 juta hingga Rp 7 juta dalam sebulan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved