Berita Trenggalek
Pria Trenggalek Manfaatkan Limbah Kayu untuk Patung Ukiran
Sejak sekitar empat tahun terakhir, ia mulai membikin patung ukiran dari bahan kayu sisa untuk dijual. Cara ini jelas lebih menguntungkan.
Penulis: Aflahul Abidin | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | TRENGGALEK – Sodikan (66) tengah sibuk menyelesaikan patung penari ukiran di bengkel kayu sebelah rumahnya, Selasa (3/9/2019).
Di tempat itu, tumpukan kayu memenuhi ruangan. Lengkap dengan gergaji, alat ukir, dan benda-benda mesin lain.
Sodikan adalah tukang kayu tulen. Ia membuat kursi, meja, dan perabot kayu lain sejak awal 1980-an. Awalnya ia kerja di bengkel mebel milik orang. Baru beberapa tahun kemudian ia membuat bengkel sendiri.
Produksi perabot yang Sodikan buat sering menyisakan limbah potongan kayu-kayu kecil. Dulu, ia menjual kayu-kayu sisa itu dengan harga murah.
Kini, sejak sekitar empat tahun terakhir, ia mulai membikin patung ukiran dari bahan kayu sisa untuk dijual. Cara ini jelas lebih menguntungkan.
“Dari dulu saya suka ukir kayu. Sejak kerja ikut orang. Akhirnya membuat patung-patung seperti ini,” kata bapak tiga anak itu.
Di bengkel mebelnya, Sodikan dibantu seorang pekerja untuk membuat perabot. Khusus untuk patung, ia lalui prosesnya sendiri dari awal hingga jadi.
Untuk satu patung penari yang tingginya sekitar 70 sentimeter (cm), Sodikan menghabiskan waktu hingga 4 hari lebih.
“Yang paling lama untuk bikin wajahnya. Bisa seharian,” kata dia.
Membuat patung bagian wajah, bagi Sodikan, cukup sulit. Ia harus memastikan wajah patung elok dipandang. Cantik bila perempuan dan tampan bila laki-laki.
“Saya tidak mau membuat patung yang wajahnya aneh-aneh, seperti barongan. Saya cuma mau membuat yang cantik begini,” selorohnya.
Tak jarang, Sodikan harus berkali-kali membuat patung bagian wajah hanya agar patung itu tampak seperti keinginannya. Di bengkel itu, ada beberapa biji patung wajah setengah jadi yang akan ditempelkan ke patung tubuh bikinannya.
Karena menggunakan kayu limbah, bentuk patung buatan Sodikan tak utuh. Ia harus menempel bagian tubuh satu dengan yang lain menggunakan lem.
Patung dibuat dengan berbagai jenis kayu: akasia, jati, mahoni. Tergantung bahan sisa yang tergeletak di bengkel itu.
Kebanyakan patung yang Sodikan buat berupa patung penari. Hari itu, ia sedang menyelesaikan patung penari gaya Bali. Tak begitu terlihat khas Bali karena Sodikan membuatnya tanpa literasi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/patung-ukiran-trenggalek.jpg)