Sambang Kampung

Ingin Angkat Titel Kampung Budaya, Warga Dinoyo Perkenalkan Makam Mbah Joyo

Mbah Joyo disebut-debut sering berkeliling kampung yang dulunya bernama Dinoyo, menunggang kuda ditemani anjing yang tingginya seperti manusia

Ingin Angkat Titel Kampung Budaya, Warga Dinoyo Perkenalkan Makam Mbah Joyo
surabaya.tribunnews.com/sugiharto
Warga membersihkan makam Mbah Joyo di Kampung Dinoyo, Surabaya. 

SURYA.co.id, SURABAYA - Meski lokasinya di tengah kota, kampung RT 02/RW 03 Dinoyo, Surabaya ini masih menjalankan tradisi dan memiliki kearifan lokal yang dipegang erat secara turun-temurun.

Satu di antaranya adalah tradisi ketan intip, yang hingga kini masih disajikan untuk merayakan saat-saat penting, seperti syukuran rumah, pernikahan, kelahiran, sunatan, dan lain-lain.

Menurut Ketua RT 02/RW 03 Dinoyo, Lailiana Indriawati (36), bila ditarik hingga kisah awalnya, semua bermula dari pria bernama Joyo Prawiro, yang dipercaya sebagai sosok dibalik hadirnya kampung Dinoyo.

"Sebenarnya keberadaan makam mbah Joyo ini sudah ada sejak lama. Menurut para sesepuh, sepertinya sudah ada sejak tahun 1600. Kami pun sudah lama menjalankan tradisinya, dan rutin ziarah maupun doa di makamnya sebelum melakukan kegiatan-kegiatan penting. Tapi kami baru benar-benar yakin soal sejarahnya di awal 2019 ini," tutur perempuan yang akrab disapa Indri ini, Rabu (14/8/2019).

Dibantu tetua, ahli sejarah dan berbagai literatur, warga menyimpulkan bahwa Joyo Prawiro merupakan perwira perang di zaman akhir Kerajaan Majapahit.

Sosok Joyo Prawiro digambarkan sebagai pria bertubuh sangat tinggi dan tegap, sampai-sampai punya panggilan lain 'Cagak'.

Ia disebut-debut sering berkeliling kampung yang dulunya bernama Dinojo ini, menunggang kuda dan ditemani anjing yang tingginya seperti manusia.

"Maka dari itu, kami ingin mengangkat kampung kami sebagai kampung budaya, karena kampung kami masih kental dengan adat dan tradisi turun-temurun. Kalau dulu, ada cerita warga bikin kesenian rakyat, gelar wayang semalam suntuk. Tepat pukul 00.00, potong ketan intip dan tumpeng," jelasnya

Sebagai persiapan menjadi kampung budaya, warga menyambut para tamu di gapura pintu masuk kampung dengan musik khas Jawa.

Kemudian, para tamu diminta mencuci tangan lewat air kendi, yang disebut-sebut berisi air dari tujuh sumber.

Halaman
12
Penulis: Delya Octovie
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved