Berita Banyuwangi
Merajut Kerukunan Melalui Pincuk Tumpeng Sewu Banyuwangi
Kerukunan melalui kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat, dipercaya mampu menangkal dampak negatif berupa disrupsi informasi
Penulis: Haorrahman | Editor: Cak Sur
SURYA.co.id | BANYUWANGI - Era digital seperti saat ini membawa dampak negatif berupa disrupsi informasi dan bertebarannya hoaks, yang mengganggu kerukunan. Karena itu memperkuat kerukunan melalui kearifan lokal yang ada di tengah masyarakat, dipercaya mampu menangkal dampak negatif itu.
Seperti dalam tradisi Tumpeng Sewu yang dimiliki masyarakat Suku Using, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah, Banyuwangi.
Tumpeng Sewu digelar tiap memasuki bulan Dzulhijjah, atau yang biasa disebut dengan bulan haji. Tahun ini Tumpeng Sewu bertepatan pada, Minggu (4/8/2019) malam.
Lewat Tumpeng Sewu ini, masyarakat bertemu, berkumpul dan bersilaturahmi. Tidak hanya warga Kemiren, masyarakat dari berbagai desa di Banyuwangi turut hadir untuk merasakan nikmatnya Tumpeng Sewu dengan sajian utama pecel pitik itu.
"Semua warga, termasuk anak-anak muda berkumpul, bergotong royong mengemas acara ini, sehingga warga menjadi guyub rukun. Ini menjadi modal penting untuk terus membangun daerah, apalagi di tengah disrupsi informasi dan banyaknya hoaks seperti saat ini," kata Bupati Banyuwangi, Abdullah Azwar Anas.
Dengan merawat kearifan lokal yang ada di masyarakat seperti ini, menurut Anas mampu memupuk persatuan dan persaudaraan, sehingga tak mudah terpengaruh oleh banyaknya disrupsi informasi yang bertebaran di dunia digital. Hingga saat ini, sangat jarang terjadi gejolak di masyarakat Kemiren yang dikenal sebagai Suku Using, suku asli Banyuwangi.
”Dengan kearifan lokal masyarakat terbiasa berkumpul, bertatap muka dan saling silaturahmi, sehingga ketika ada informasi-informasi tidak benar atau hoaks, bisa segera terselesaikan. Kearifan lokal merupakan peyangga persaudaraan dan persatuan masyarakat,” kata Anas.
Kerukunan sangat terlihat dalam tradisi Tumpeng Sewu. Masyarakat Kemiren secara swadaya mengemas acara tersebut. Pemkab Banyuwangi tidak memberikan anggaran untuk menggelar acara ini.
Pada acara ini, Anas meminta agar masyarakat utamanya anak muda untuk memenuhi media sosial dengan konten-konten positif seperti kerukunan dalam acara Tumpeng Sewu.
”Bagi yang punya media sosial, sebarkan kebaikan dan kerukunan ada di acara ini. Penuhi media sosial kalian dengan konten-konten yang positif,” tambah Anas.
Pada malam Tumpeng Sewu, sepanjang jalan sekitar dua kilometer, di tiap depan rumah, disediakan tumpeng dengan menu utama pecel pitik. Pecel pitik merupakan kuliner khas suku Using yakni ayam panggang dengan olahan parutan kelapa.
Kuliner ini membutuhkan penanganan khusus. Sejak pagi para wanita suku Using mengolah ayam untuk Tumpeng Sewu. Setelah dibersihkan bulunya, ayam didekatkan pada bara kayu bakar, tidak dibakar langsung. Ini agar lemak dan darahnya mengering. Setelah itu ayam dipanggang. Ayam dicampur dengan parutan kelapa yang sudah dibumbui.
Tiap rumah sebenarnya diminta untuk menyiapkan satu ayam. Namun warga ada yang memotong tiga bahkan hingga tujuh ayam.
"Tumpeng Sewu menu utamanya adalah pecel pitik. Namun warga biasanya juga menambahi dengan lauk yang lain sesuai selera. Kalau saya biasanya memasak kuah asin," kata Holilah, warga setempat.
Di tradisi ini warga dengan ikhlas menyisihkan dananya untuk membuat tumpeng. Tanpa dimobilisasi warga siap dengan segala kebutuhan. Bahkan empat atau lima bulan sebelumnya warga telah membeli ayam kampung berukuran kecil dan dipelihara untuk nantinya disembelih saat Tumpeng Sewu.
Saat pelaksanaan Tumpeng Sewu, dengan ramah warga mempersilahkan siapapun yang lewat di depan mereka, untuk duduk bersama menyantap makanan atau sekadar bercengkrama.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tumpeng-sewu.jpg)