Berita Lumajang

Seorang Pendaki Asal Bangkalan Terjatuh di Jalur ke Puncak Mahameru Lumajang, begini Kondisinya

Seorang pendaki Gunung Semeru (3.676 Mdpl) asal Kelurahan Kraton Kabupaten Bangkalan, Galuh Cahya Rabani, terjatuh di jalur pendakian puncak Mahameru.

Seorang Pendaki Asal Bangkalan Terjatuh di Jalur ke Puncak Mahameru Lumajang, begini Kondisinya
SURYAOnline/sri wahyunik
Petugas mengevakuasi seorang pendaki asal Bangkalan Madura yang terjatuh di jalur puncak Mahameru Lumajang, Selasa (30/7/2019). 

Surya.co.id | LUMAJANG  - Seorang pendaki Gunung Semeru (3.676 Mdpl) asal Kelurahan Kraton Kabupaten Bangkalan, Galuh Cahya Rabani terjatuh di jalur pendakian gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut. Dia terluka sehingga harus dievakuasi oleh tim penyelamat pada Senin (29/7/2019).

Berdasarkan informasi dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang dan juga Polres Lumajang, Galuh terjatuh di Cemara Tunggal, salah satu titik pendakian di atas Pos Kalimati. Dia terjatuh saat perjalanan turun setelah mendaki hingga ke Puncak Mahameru, puncak Gunung Semeru. Galuh terluka di wajah, dan perutnya sobek sehingga tidak bisa berjalan.

Berdasarkan kronologi yang dikirimkan Kapolres Lumajang AKBP M Arsal Sahban, Galuh bersama empat orang rekannya berangkat mendaki dari Pos Ranu Pani pada Sabtu (27/7/2019 pagi. Pukul 15.00 Wib, kelima orang pendaki itu tiba di Ranu Kumbolo. Setelah beristirahat mereka meneruskan perjalanan ke Pos Kalimati.

Rombongan pun sampai di Pos Kalimati pukul 20.30 WIB. Namun di pos tersebut tiga orang memilih mendirikan tenda serta sisanya tetap ingin melanjutkan perjalanan. Akhirnya Galuh kembali melanjutkan perjalanan bersama rekannya yang bernama Fathur Rozi. Ditengah perjalanan, ternyata Rozi tidak kuat dan memilih kembali ke Kalimati sedangkan Galuh nekat melanjutkan perjalanan sendirian.

Hari Minggu (28/7/2019) rombongan mendapatkan kabar bahwa rekannya Galuh terjatuh di lereng sekitaran Cemara Tunggal pada saat perjalanan turun dari puncak Semeru. Dua orang rekannya pun turun ke Pos Ranu Pani untuk meminta bantuan, sedangkan dua orang lain nya bersama pendaki lain naik membantu evakuasi Galuh.

"Pendaki terjatuh di jalur pendakian, dalam kondisi selamat namun terluka. Karenanya evakuasi dari TKP ke pos 3 (Kalimati) memakai tandu," ujar Pelaksana Tugas Sekretaris BPBD Lumajang Wawan Hadi Siswoyo kepada Surya, Selasa (30/7/2019). Dari pos 3, evakuasi dilanjutkan dengan memakai sepeda motor.

Galuh yang tidak bisa berjalan diangkut sepeda motor hingga ke Pos Ranu Pani. Sesampainya di Ranu Pani, Galuh diserahkan kepada keluarga yang telah menunggu di Ranu Pani. Selanjutnya, dia dirawat secara intensif di sebuah rumah sakit di Kabupaten Malang.

Kapolres Lumajang AKBP M Arsal Sahban menambahkan pendaki yang mengalami kecelakaan tersebut telah melanggar imbauan dari pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) “Pihak Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi telah mengeluarkan jarak aman dari pendakian yakni sejauh 2 Kilometer dari bibir kawah Gunung Semeru. Seharusnya para pendaki sudah sangat memahami dengan imbauan ini. Pihak keluarga juga menerima kejadian ini sebagai kecelakaan serta mengobati korban dengan biaya pribadi. Ini adalah alarm untuk pendaki lain yang ingin menaklukan Gunung Semeru agar lebih berhati hati,” ujar Arsal.

Sementara, Kapolsek Senduro AKP Joko Wintoro mengatakan, kejadian seperti ini bukanlah yang pertama. “Titik aman pendakian adalah sampai Pos Kalimati. Sudah banyak pendaki yang terjatuh bahkan hilang di Gunung Semeru. Saya berharap semoga ini adalah kejadian yang terakhir yang hampir menyebabkan nyawa pendaki hilang,” tegas Joko.

PVMBG masih menetapkan status aktivitas Gunung Semeru di level II (waspada). PVMBG juga mengimbau para pendaki dan masyarakat tidak melakukan aktivitas di dalam radius 2 Km dan wilayah sejauh 4 Km di sektor lereng selatan-tenggara kawah aktif. Wilayah itu merupakan daerah bukaan kawah aktif Gunung Semeru (Jongring Seloko) sebagai alur luncuran awan panas.

Pada 19 Juli lalu, alat pantau gunung api itu mendeteksi terjadi 19 kali gempa. Hal itu membuat adanya letusan dan hembusan.

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) sendiri membuka pendakian di Gunung Semeru mulai 12 Mei 2019, setelah sebelumnya ditutup pada 3 Januari 2019. Tujuan penutupan itu, untuk memulihkan dan merevitalisasi ekosistem sepanjang jalur pendakian Semeru.

Para pendaki pun dilarang mendaki hingga puncak Mahameru. Pihak Balai Besar TNBTS membatasi pendakian hingga Pos Kalimati sesuai dengan rekomendasi PVMBG seiring dengan status gunung tersebut pada tingkat waspada atau level II.

Penulis: Sri Wahyunik
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved