Sambang Kampung Sidosermo
Alifia Mengaku Senang Dapat Banyak Ilmu dari Tiara Handicraft
Ditemani alunan lagu dari sebuah radio model lawas, belasan pekerja Tiara Handicraft tampak sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Ditemani alunan lagu dari sebuah radio model lawas, belasan pekerja Tiara Handicraft tampak sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing.
Sekilas mereka tampak seperti pekerja produksi biasa.
Namun, mereka sebenarnya adalah Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) yang dilatih oleh Titik Winarti (48), pemilik Tiara Handicraft.
"Saya di sini bantu-bantu saja, misalnya menyetrika, atau membantu misal ibu (Titik) butuh barang apa, pekerjaan apa yang perlu dilakukan," tutur Alifia Putri Rahmadia (25).
Perempuan dengan keterbatasan pada pengelihatan dan bentuk kakinya ini sudah tiga tahun bekerja di Tiara Handicraft.
Selama dibawah asuhan Titik, ia mengaku mendapat banyak pengalaman serta ilmu berharga.
Ia juga bersyukur, meski sering mendapat kesulitan ketika mengerjakan sesuatu, Titik maupun pembimbing lain tidak putus asa mengajarinya.
"Meskipun saja susah kalau menjahit, hasilnya juga tidak baik, tapi saya diajari terus," katanya.
Perempuan yang sebelumnya bekerja di sebuah usaha laundry itu pun berpesan bagi ABK lainnya, untuk tidak menyerah, tidak putus asa, dan tetap semangat.
"Semua pasti ada jalannya, pokoknya kita niat," ujarnya.
Titik Winarti dikenal sebagai pengusaha yang menggandeng ABK sebagai pekerjanya.
Saat ini, ia memiliki 15 ABK yang bekerja di bagian produksi.
ABK tersebut terdiri dari tuna daksa, tuna wicara, tuna grahita, dan lain-lain.
Selain sebagai pekerja, ia juga menerima pemagang dari sekolah inklusi, satu di antaranya adalah SMKN 8 Surabaya.
Mereka mengerjakan produk dari kain perca maupun utuh, mulai dari tas, home decor, tempat surat, hingga kaus.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/titik-winart-pemilik-tiara-handicraft.jpg)