Lapor Cak

Keberangkatan Bus Trans Sidoarjo Dikeluhkan, Penumpang Pilih Tidur di Dalam Bus 

Banyak penumpang mengeluhkan lamanya masa tunggu keberangkatan bus Trans Sidoarjo.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Parmin
surya.co.id/nuraini faiq
TERTIDUR - Salah satu penumpang pelajar tertidur saat menunggu keberangkatan bus Trans Sidoarjo dari Terminal Purabaya Bungurasih, Senin (10/12/2018).   

"Saya mau pulang ke Pondok Jati. Saya senang karena bus lewat tol," tandas Ninda. 

Namun kesenangan itu sesaat pada jam pulang kerja. Mereka berharap interval waktu keberangkatan bus bisa diperpendek.

Dia mengimpikan setiap saat bus melintas sehingga dirinya tak perlu minta diantar ke tempat kerja di Surabaya.

Bus Trans Sidoarjo atau Trans Gerbang Kertasusila sejak awal keberadaannya sudah kontroversial. Bus tersebut awalnya didatangkan dari Kemenhub ke Jatim untuk Kota Surabaya. 

Namun, Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini menolak bus itu dengan alasan high deck. Surabaya menginginkan Low deck agar tidak merusak taman dan trotoar Surabaya.  

Angle kedua:

Bus Trans Sidoarjo Tinggal 6 Unit 

Foto: Petugas tengah menyiapkan persiapan keberangkatan Bus Trans Sidoarjo dari Terminal Purabaya Bungurasih Sidoarjo, Senin (10/12/2018).

SURYA SURABAYA 

Bus Trans Sidoarjo yang semula 30 unit kini tinggal menyisakan 6 unit yang dioperasikan di rute Purabaya-Porong. Selebihnya ditarik kembali ke pusat dan ada yang dikandangkan di PT Damri Cabang Surabaya selaku operator Bus Trans Sidoarjo. 

"Memang banyak yang ditarik kembali ke pusat bus Trans Gerbang Kertasusila. Tinggal sisa sedikit yang kami operasikan rute ke Sidoarjo," terang General Manager PT Damri Cabang Surabaya Totok Budi, Senin (10/12/2018).

Dia mangaku harus realistis dengan kondisi yang ada. Meski sudah tiga tahun dioperasikan, bus Trans Sidoarjo itu belum menarik animo penumpang. Bus ini hanya ramai di jam-jam berangkat dan pulang kerja. 

Bus bertuliskan Trans Gerbang Kertasusila itu selama ini juga memilih kru atau kondektur perempuan. Sisa enam unit bus itu ditempati kru perempuan. "Semua kondekturnya memang perempuan," kata petugas di Pos Trans Sidoarjo. 

Meski demikian, tetap tidak membuat bus nyaman itu ramai penumpang. Hanya jam-jam berangkat san pulang kerja ramai penumpang. Itu pun juga tidak saban hari. Akibatnya keberadaan bus itu membebani operasional bus. 

Hasil tiket penumpang tidak sebanding dengan biaya operasional. Minimal satu trip atau sekali jalan perlu BBM Rp 300.000. Mereka sehari bisa 8-10 trip. Minimal satu bus perlu biaya Rp 1,6 juta. Belum termasuk gaji dan honor kru bus yang direkrut. 

Halaman
123
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved