Minggu, 7 Juni 2026

Berita Surabaya

Kian Percaya Diri, Ludruk 'Luntas' Masuk Hotel

Ludruk kini tak hanya bisa dinikmati di panggung teater, tobong, maupun di kampung-kampung. Buktinya, Ludruk Luntas sukses tembus hotel.

Tayang:
Penulis: Delya Octovie | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/habibur rohman
Pemain Ludruk sekaligus koordinator Luntas Robert Bayonet didampingi Direktur Eksekutif Yayasan Hotline Surabaya Esthi Susanti ((baju biru) memaparkan konsep Ludruk di Hotel Swiss Bel inn Manyar Surabaya, Kamis (20/9/2018). The Looedroek "Ärti Sebuah Jas" akan ditampilkan di Hotel Swiss Belinn untuk memperingati Hari Perdamaian Dunia. 

Lomba yang diadakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan tersebut berhasil menyedot perhatian anak-anak SD kelas 3-5.

“Antusiasmenya besar, sehingga ada permintaan untuk membuat lomba ini lagi. Nah ketika saya mendengar ide yang disampaikan Bu Esthi, wow, related sekali! Agustus sudah diadakan yang berbau nasionalisme, kenapa September tidak? Apalagi berkaitan dengan event perdamaian dunia yang internasional,” jelasnya.

Erick menambahkan, mereka ingin memberi tempat bagi ludruk unjuk gigi.

Ia merasa bangga sebuah industri pariwisata bisa aktif terlibat meningkatkan budaya lokal, dan bukan menjadi institusi yang mengacuhkan.

“Inilah alasan-alasan mengapa saya mengambil momen-momen ini, dan tidak mau kehilangan momen. Bisa bertemu antar golongan suku, dan kalau bisa hadir dari pemerintah juga, jadi acara bisa meriah, elegan, berdampak besar bagi perdamaian dunia,” ucapnya.

Tujuan penampilan ludruk kali ini memang cukup berat, yakni mempromosikan seni sekaligus menyatukan berbagai suku, ras, hingga generasi.

Namun Esthi Susanti Budiono, Direktur Eksekutif Hotline Surabaya, mengaku optimis karena LUNTAS memberi penampilan yang berbeda dari ludruk konvensional.

“Setelah saya pelajari memang ada cara berpikir yang berbeda. Unsur pakem remo, jula juli, memang masih ada, tetapi dibuat modern dengan durasi yang tidak bertele-tele, serta menyesuaikan situasi zaman,” terangnya.

Ini merupakan satu di antara alasan mengapa Esthi mau berkolaborasi dengan LUNTAS.

Mereka fokus pada anak muda, dan terus berusaha mengombinasikan pentas konvensional dengan yang kontemporer.

Alasan lainnya adalah LUNTAS mau berbagi ilmu dan bersedia mengembangkan ludruk di kampung-kampung Surabaya.

“Tidak seperti seniman pada umumnya yang maunya benderanya sendiri yang dikibar, LUNTAS bersedia mengembangkan ludruk di kampung-kampung. Kami sudah tekan kontak dengan delapan kampung, sudah dua yang berhasil yaitu Kampung Parikan dan Asem Jajar,” bebernya.

Ia dan Robert yang memprakarsai Republik Ludruk Surabaya (RLS) memang ingin berbagi dan mengajari ludruk pada semua kalangan, sehingga lahir konsep ludruk jaringan.

Lewat RLS, mereka melatih kurang lebih 50 anak muda untuk membangun kemampuan di bidang pemasaran, manajemen sampai audiovisual. 

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved