Berita Surabaya
Kian Percaya Diri, Ludruk 'Luntas' Masuk Hotel
Ludruk kini tak hanya bisa dinikmati di panggung teater, tobong, maupun di kampung-kampung. Buktinya, Ludruk Luntas sukses tembus hotel.
Penulis: Delya Octovie | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA – Kesenian ludruk kini tak hanya bisa dinikmati di teater maupun kampung-kampung Surabaya saja, tetapi hotel bintang tiga.
Kelompok ludruk anak muda dari Surabaya yang menamakan dirinya Ludrukan Nom-Noman Tjap Soeroboio (LUNTAS) dijadwalkan naik panggung pada hari Jumat, 21 September 2018, mulai pukul 20.00 WIB di Hotel Swiss-Belinn Manyar Surabaya.
Pentas ini diadakan untuk menyambut Hari Perdamaian Dunia.
Robert Bayoned, koordinator LUNTAS menyebut pementasan ini merupakan kesempatan luar biasa bagi kelompok ludruk Surabaya.
“Ini kesempatan luar biasa untuk kesenian yang lahir dari masyarakat bawah, bagi sebuah kesenian asli Jawa Timur khususnya Surabaya. Dari perkembangannya sampai saat ini, ludruk mengalami keterpurukan, karena anak muda sekarang jangankan main ludruk, nonton saja sudah tidak minat,” tuturnya dalam konferensi pers LUNTAS di Hotel Swiss-Belinn Manyar, Surabaya, Kamis (20/19/2018).
Dengan masuknya ludruk ke hotel, Robert berharap masyarakat khususnya anak muda kembali mencintai ludruk.
Baca: Tinggal Selangkah Lagi, Parkir Berlangganan di Sidoarjo Tak Berlaku
Pentas ini pun dirasa spesial, tak hanya karena ludruk berhasil masuk hotel, tetapi juga karena bertepatan dengan Hari Perdamaian Dunia.
Robert berharap lewat seni, ludruk bisa membawa perdamaian di masyarakat.
“Saya berharap seni budaya bisa menyelamatkan masyarakat dari suasana politik yang panas. Bisa membawa persahabatan dan kebersamaan,” ujarnya.
Selain untuk merayakan Hari Perdamaian Dunia, pentas ini juga memperingati 100 hari tragedi bom Surabaya.
Erick Siahaya, General Manager Hotel Swiss-Belinn Manyar Surabaya mengaku sangat antusias dengan kolaborasi ini.
Kehadiran ludruk di hotel menurutnya membawa nilai keunikan tersendiri, apalagi budaya tersebut asli milik kota tempat Swiss-Belinn Manyar berdiri.
“Kami ingin walau kami bintang tiga, kami terbaik di kelasnya. Tentu kami perlu punya keunikan, salah satunya kami ingin merangkul budaya lokal. Walau kami hotel internasional, kami tidak lupa nilai budaya di mana kami berada,” jelasnya.
Ia menyebut pementasan ludruk ini sempurna sebagai lanjutan dari aksi-aksi nasionalisme yang telah dilakukan Swiss-Belinn Manyar sejak Agustus lalu.
Selain menyambut Hari Kemerdekaan lewat rangkaian menu khusus, mereka juga mengadakan lomba membaca cerita berbahasa Jawa, yang diikui oleh 50 Sekolah Dasar (SD) di Surabaya.
Lomba yang diadakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan tersebut berhasil menyedot perhatian anak-anak SD kelas 3-5.
“Antusiasmenya besar, sehingga ada permintaan untuk membuat lomba ini lagi. Nah ketika saya mendengar ide yang disampaikan Bu Esthi, wow, related sekali! Agustus sudah diadakan yang berbau nasionalisme, kenapa September tidak? Apalagi berkaitan dengan event perdamaian dunia yang internasional,” jelasnya.
Erick menambahkan, mereka ingin memberi tempat bagi ludruk unjuk gigi.
Ia merasa bangga sebuah industri pariwisata bisa aktif terlibat meningkatkan budaya lokal, dan bukan menjadi institusi yang mengacuhkan.
“Inilah alasan-alasan mengapa saya mengambil momen-momen ini, dan tidak mau kehilangan momen. Bisa bertemu antar golongan suku, dan kalau bisa hadir dari pemerintah juga, jadi acara bisa meriah, elegan, berdampak besar bagi perdamaian dunia,” ucapnya.
Tujuan penampilan ludruk kali ini memang cukup berat, yakni mempromosikan seni sekaligus menyatukan berbagai suku, ras, hingga generasi.
Namun Esthi Susanti Budiono, Direktur Eksekutif Hotline Surabaya, mengaku optimis karena LUNTAS memberi penampilan yang berbeda dari ludruk konvensional.
“Setelah saya pelajari memang ada cara berpikir yang berbeda. Unsur pakem remo, jula juli, memang masih ada, tetapi dibuat modern dengan durasi yang tidak bertele-tele, serta menyesuaikan situasi zaman,” terangnya.
Ini merupakan satu di antara alasan mengapa Esthi mau berkolaborasi dengan LUNTAS.
Mereka fokus pada anak muda, dan terus berusaha mengombinasikan pentas konvensional dengan yang kontemporer.
Alasan lainnya adalah LUNTAS mau berbagi ilmu dan bersedia mengembangkan ludruk di kampung-kampung Surabaya.
“Tidak seperti seniman pada umumnya yang maunya benderanya sendiri yang dikibar, LUNTAS bersedia mengembangkan ludruk di kampung-kampung. Kami sudah tekan kontak dengan delapan kampung, sudah dua yang berhasil yaitu Kampung Parikan dan Asem Jajar,” bebernya.
Ia dan Robert yang memprakarsai Republik Ludruk Surabaya (RLS) memang ingin berbagi dan mengajari ludruk pada semua kalangan, sehingga lahir konsep ludruk jaringan.
Lewat RLS, mereka melatih kurang lebih 50 anak muda untuk membangun kemampuan di bidang pemasaran, manajemen sampai audiovisual.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/ludruk-masuk-hotel_20180920_192325.jpg)