Citizen Reporter
Ini Pesan di Relief Candi Jawar
Waspadai pengkhianat. Pesan semacam itu sudah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha. Itu yang ada di relief Candi Jawar.
Cerita bintang pada Indonesia masa klasik sudah ada sejak kerajaan Hindu-Buddha. Cerita binatang itu terdokumentasikan pada karya sastra Tantri Kamandaka yang disadur dari Kitab Pancatantra.
Cerita binatang ada dalam visual di relief candi. Itu seperti yang ada di candi-candi Jawa Ttimur. Di pendapa teras dan petirtaan dalam kompleks Candi Penataran di Blitar, Candi Jago di Malang, Candi Surowono di Kediri, Candi Rimbi di Jombang, Candi Menak Jinggo di Mojokerto, Candi Miri Gambar di Tulungagung, dan salah satunya terdapat di Candi Jawar.
Candi Jawar terletak di Dusun Sukorejo, Desa Mulyosari, Kecamatan Ampel Gading, Kabupaten Malang. Nama situs diambil dari nama dusun yang dulu berada di daerah bawah candi. Candi Jawar berbentuk bujur sangkar sebagai pendopo teras (tepas) dan tengahnya dihiasi panil relief cerita binatang. Candi Jawar ini digunakn sebagai tempat pendidikan pada masa lalu.
“Di Candi Jawar terdapat umpak batu yang terdiri atas dua jenis, empat berada di atas bangunan Candi Jawar yang masing-masing berlubang pada bagian tengahnya. Yang kedua berada di sekitar bangunan dengan jumlah seharusnya berjumlah 12 buah. Namun, yang dapat dilihat dengan jelas saat ini berjumlah dua buah,” kata Fathur Rizky, anggota komunitas pelestari sejarah dan budaya Barisan Mbah Sinto.
Ia menambahkan, delapan umpak batu yang lain dalam kondisi setengah terpendam dan lainnya belum ditemukan. Umpak batu itu berfungsi sebagai penyangga tiang bangunan pendapa teras di Situs Jawar.
“Tiang-tiang bangunan itu diduga terbuat dari bahan kayu yang mudah lapuk. Fungsi Candi Jawar adalah mandala kadewaguruan untuk media pendidikan yang diberikan guru kepada muridnya,” ucap Fathur.
Cerita dari panil relief di Candi Jawar yaitu Si Singa Candrapinggala dan Lembu Nandaka yang digambarkan, bangau dan kepiting, kisah kinari, gagak dan ular mati karena ketam, angsa dan kura-kura, kera dan burung manyar, ular menipu katak, Raja Ari Dharma dan Brahmana Nagapertala.
Pada relief binatang penuh dengan pesan moral dan ajaran kesusilaan. Salah satunya adalah tokoh serigala bernama Sambada.
Dalam kisah Si Singa Candrapinggala dan Lembu Nandaka, tokoh itu terkenal dengan politik adu domba. Itu dilakukan terhadap rajanya yang berupa seekor singa bernama Candapinggala agar bertarung melawan patihnya, yang berupa seekor lembu bernama Nandaka.
Setelah keduanya mati, bangkai Candapinggala dimakan raja hutan. Bangkai Nandaka dimakan kawanan serigala. Kawanan serigala itu akhirnya mati kekenyangan. Pesan yang dapat diambi adalah fitnah dapat menghancurkan kehidupan seseorang.
Fathur menjelaskan, pesan moral edukatif dalam cerita Candrapinggala dan Nandaka sesuai dengan nilai daśaśīla yaitu awyawahārika (tidak ikut campur dalam perkara).
“Selanjutnya sifat yang dimiliki tokoh Patih Serigala Sambada dalam cerita itu lebih mengarah pada sifat daśamala yaitu megata (memutuskan hubungan persaudaraan), metraya (berkata kasar dan memaksakan kehendak), bhakṣabhuwana (serakah dan ingin berkuasa), dan kumburu (menghasut),” katanya.
Kisah-kisah binatang ini sangat penting. Semua kisah memiliki pesan moral. Perlu adanya pengangkatan kisah-kisah itu dalam kehidupan agar tetap lestari dan tidak hilang ditelan masa.
Eko Prasetyo
Mahasiswa Ilmu Sejarah 2014
Universitas Negeri Malang
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/candi_20180203_194407.jpg)