Jumat, 24 April 2026

Sambang Australia

Kisah Para Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Menempuh Studi di Australia

Australia dilirik oleh banyak mahasiswa dan pelajar Indonesia untuk melanjutkan studi. Apa alasannya? Ini kata mereka..

surabaya.tribunnews.com/eben haezer
Gio (kiri) dan Erlita Rusli (kanan), dua mahasiswa asal Indonesia yang kini menempuh studi di Australia Barat, saat ditemui pekan lalu di Perth. 

SURYA.co.id | PERTH - Selain sejumlah negara di Eropa, Australia juga menjadi tempat yang dilirik oleh sebagian pemuda di Indonesia untuk melanjutkan studi. Selain kualitas pendidikan yang diperoleh, faktor jarak dengan tanah air juga menjadi pertimbangan. 

Hal ini seperti disampaikan Aldwin Tjiptarahardja, mahasiswa asal Surabaya yang sedang menempuh program master di bidang Marketing di Curtin University, Perth.

Menurut Aldwin, dari aspek kenyamanan, Perth juga menawarkan atmosfer yang nyaman untuk belajar. 

“Saya sih betah di sini, tempatnya nyaman, tidak bikin stres,” kata Aldwin kepada Surya.co.id yang terlibat dalam rombongan International Media Visit (IMV) Surabaya 2017 yang disponsori Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia pekan lalu. 

Bagi Aldwin yang mendapat gelar sarjana dari Murdoch University, Singapura, Perth menjadi pilihannya melanjutkan studi magister karena jarak yang tidak terlalu jauh. Dari Bali, kota itu bisa dijangkau dengan lama penerbangan sekitar 3 jam.

“Selain kualitas pendidikannya yang bagus, jarak Perth dengan Indonesia tidak terlalu jauh,” ujarnya.

Dalam pertemuan makan malam yang digelar di  Long Chim Restaurant, sebuah rumah makan ‘bawah tanah’ di bangunan State Buildings di kawasan Barrack Street, Perth tersebut, Aldwin tak sendirian. 

Dia ditemani sejumlah mahasiswa Indonesia yang tergabung dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Western Australia yang sama-sama menempuh studi di sejumlah perguruan tinggi di Perth.

Mereka adalah Farisa Andini, Alvin Aditya, Giovanni Surya Hartono, dan Erlita Rusli.

Sama halnya dengan Aldwin, keempatnya antusias saat diminta bercerita pengalaman studi di Australia. 

(Baca: Fremantle Bersolek Menjadi Kota Maritim dan Wisata)

Gio, panggilan akrab Giovanni Surya Hartono misalnya, merasa bahwa sistem pendidikan di Australia memiliki sejumlah keunggulan ketimbang sistem pendidikan yang ditawarkan di Indonesia. 

Karenanya, dia pun tak keberatan sementara meninggalkan tanah air dan menempuh studi sejak S1.

“Di sini kami tidak dijejali dengan pelajaran-pelajaran yang tidak sesuai dengan minat dan bakat kami. Jadi sejak awal memang sudah diarahkan agar materi yang diperoleh, sesuai dengan spesialisasi,” kata Gio yang menempuh program studi magister engineering di Curtin University.

Homesick

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved