Single Focus
Layanan Ambulans di RS masih Mahal, Warga Minta Aturan Tarif Transparan
"Pihak rumah sakit lalu menawarkan ke saya ambulans lain. Katanya, ambulans ini yang biasa melayani di rumah sakit," ucap Arif.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Layanan ambulans menjadi bagian penting dalam penanganan yang bersifat emergency. Bukan hanya untuk mengangkut orang sakit, melainkan juga untuk mengantarkan pasien yang sudah meninggal.
Akan tetapi, layanan ambulans ini banyak dikeluhkan warga masyarakat di Surabaya. Lantaran layanan ambulans selalu dipatok mahal oleh rumah sakit (RS).
Salah satunya dialami warga Wonorejo RT 2 RW 2, Arif Fajar Ardianto, saat mendapat musibah ayahnya meninggal. Saat itu, sang ayah dirawat di RS Haji.
"Setelah mengalami sakit, ayah saya meninggal dini hari. Usai mengurus adiministrasi, saya mengurus kepulangan jenazah ke rumah di Wonorejo," ucap Arif pada Surya, Jumat (20/10) lalu.
Ia meminta layanan ambulans RS. Namun saat itu RS tidak bisa memberikan. Alasannya, sopir sudah pulang, sehingga tidak bisa memberikan pelayanan ambulans.
"Pihak rumah sakit lalu menawarkan ke saya ambulans lain. Katanya, ambulans ini yang biasa melayani di rumah sakit," ucap Arif.
Ambulans yang dimaksud bukan resmi dari dalam, melainkan dari luar yang memiliki kerja sama dengan pihak RS.
Mengingat dalam kondisi terdesak, dan berkabung, Arif pasrah dicarikan ambulans, yang penting ada yang mengantar jenazah sang ayah ke Wonorejo.
"Begitu ambulans datang, saya tahu kalau memang dari luar rumah sakit. Padahal di luar ada ambulans resmi dari rumah sakit. Nah oleh ambulans ini, saya ditarik biaya Rp 1 juta," tuturnya.
Arif sempat protes mengapa harga yang dipatok untuk jasa ambulans sangat mahal. Padahal, hanya ke Wonorejo yang tidak sampai enam kilometer jaraknya dari RS.
"Tetapi saya malah dibilang, untuk orang meninggal jangan ditawar. Lha kalau begini kan namanya memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan," keluhnya.
Ia memang tidak menawar lagi, namun sang sopir ambulans memberi potongan Rp 50.000.
Hal itulah yang ia sayangkan, terutama mengapa harga ambulans justru dipatok mahal, padahal untuk layanan orang yang sedang tertimpa musibah.
"Kalau ambulans untuk penanganan orang sakit, dimana butuh penanganan selama perjalanan ke rumah sakit, mungkin wajar untuk mengganti jasa selama di dalam ambulans. Tetapi mengantar jenazah kenapa dibuat mahal," papar Arif.
Padahal, di dalam ambulans juga tidak ada tindakan medis.
Ia ingin agar pelayanan jasa ambulans dibuat transparan dan diatur oleh pemerintah agar tidak dikomersialkan. Karena yang dirugikan tentu masyarakat, terutama kalangan kecil.
"Misal ada ketentuan menempuh jarak sekian harganya sekian. Tidak seperti sekarang yang bisa mahal," sarannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/mobil-ambulans-pemkot_20171023_013952.jpg)