Persona
Dokter Ursula Yudith SpTHT- KL, Peduli Disleksia setelah Anak Mengalaminya
Perempuan kelahiran 19 Oktober 1967 ini bertutur, dia dan tiga saudaranya bukan berasal dari keluarga dokter.
Penulis: Sudharma Adi | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Sejak remaja, Ursula Yudith sangat mendambakan dengan pekerjaan yang bisa melayani masyarakat. Tak heran, perempuan kelahiran Jakarta ini mantap memilih profesi dokter.
Namun, dia tak sekadar melayani pasien, tapi melayani keluarga, karena dua anaknya menderita disleksia ringan.
Jadilah dia aktif dalam kegiatan sosial dan edukasi pada anak disleksia.
Perempuan kelahiran 19 Oktober 1967 ini bertutur, dia dan tiga saudaranya bukan berasal dari keluarga dokter.
Namun, Ursula mulai tertarik dengan dunia dokter, ketika masih duduk di bangku SMP.
“Awalnya saya sempat tertarik dengan arsitektur. Tapi dari pergaulan dengan teman-teman, saya malah ingin jadi dokter,” terangnya di ruang praktek di National Hospital, Sabtu (16/9/2017).
Keinginan Ursula makin kuat ketika duduk di bangku SMA. Menguasai ilmu pasti dan sains seperti matematika dan kimia, dia benar-benar mewujudkan niatnya, dengan kuliah kedokteran di UGM Jogjakarta.
Menyelesaikan pendidikan dokter umum selama enam tahun, Ursula merasakan apa yang dia dambakan, yakni melayani masyarakat. Sebagai pegawai tak tetap (PTT), dia bertugas di Sumbawa NTB selama tiga tahun hingga 1996.
Dia sering mendapat panggilan dari warga yang butuh diobati.
“Saya sering bertugas di luar jam kerja, bahkan sampai malam,” papar anak kedua dari empat bersaudara ini.
Tuntas menimba pengalaman di Sumbawa, dia dan suaminya, Dr. J Nugroho SpJP memilih kembali ke Jawa.
Mengembangkan profesi spesialisnya, dia memilih menekuni ilmu tentang Telinga Hidung dan Tenggorokan (THT) di Unair. Dia memilih THT, karena spesialisasi ini tak banyak membutuhkan tindakan bedah. Alasan ini juga yang membuat dia berusaha fokus mendidik ketiga anaknya.
“Saya menyelesaikan spesialisasi ini selama 4,5 tahun,” tutur ibu tiga anak ini.
Pengalaman sebagai dokter spesialis teruji ketika bertugas di Batam selama 1,5 tahun.
Lalu berlanjut dia bertugas di beberapa RS swasta, seperti di RS Adi Husada dan terakhir di National Hospital.
Namun, keinginan untuk dekat dengan keluarga, membuat dia dan suami mendirikan klinik medis di rumahnya, Jl Lombok 25.
“Bagi saya, profesi dokter dan keluarga sama-sama penting. Makanya, ketika pagi saya tugas di RS, dan sore saya praktek di klinik sekaligus ngawasi anak-anak,” ujarnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dr-ursula-yudith-sptht-kl_20170917_184012.jpg)