Paul Grigson, Dubes Australia yang Cinta Mati Kopi Indonesia
Paul Grigson, Dubes Australia untuk Indonesia merasa beruntung karena dipercaya menjadi pejabat diplomatik di Indonesia. Kopi, salah satu alasannya..
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
Angka lima persen yang disebutkan Grigson bukanlah yang terbesar di Australia. Namun, seiring dengan semakin tingginya minat petani kopi di Indonesia untuk menanam kopi Arabika, baginya itu akan mendorong peluang ekspor kopi ke berbagai Negara, termasuk Australia.
Dengan demikian, maka akan tumbuh kerjasama ekonomi bilateral yang semakin sama-sama menguntungkan.
Misi untuk meningkatkan kerjasama ekonomi itulah yang menjadi salah satu alasan Pemerintah Australia membuka kantor Konsulat Jenderal (Konjen)-nya di Surabaya, Kamis (14/9/2017), di lantai 3 Gedung ESA Sampoerna Centre, Jl Dr Ir H Soekarno, Surabaya.
Grigson menyatakan, kantor konjen di Surabaya ini adalah perwakilan keempat Australia di Indonesia.
Selain kantor Kedutaan Besar di Jakarta, pemerintah Australia juga telah memiliki kantor Konsulat Jenderal di Bali dan Makassar.
Menurut Grigson, Konjen yang baru ini akan menjadi titik penting untuk memperkuat pedagangan dan mengembangkan kemitraan ekonomi antara perusahaan-perusahaan Australia dan Jawa Timur.
Dia menyebutkan, Surabaya dipilih sebagai lokasi Konsulat Jenderal lantaran merupakan pusat perdagangan di Jawa Timur yang laju pertumbuhan perekonomiannya paling cepat.
Jawa Timur, lanjut Grigson, berkontribusi sekitar 15 persen dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Indonesia. Sedangkan Surabaya sendiri, baginya adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Dua hal itulah yang menjadi alasan penting untuk perdagangan dan investasi Australia.
Sementara itu, Konsulat Jenderal di Australia ini akan dipimpin oleh Konsul Jenderal Chris Barnes.
Barnes sebelumya adalah komisoner dan direktur regional dari kantor perdagangan dan invstasi Australia Barat di Jakarta.
Bagi Barnes, Indonesia bukan tempat yang cukup asing. Pemegang tiga gelar akademis dari Universitas St Andres, Uniersitas Teknologi Sydney, dan Universitas Sydney ini juga pernah menduduki posisi senior di sektor swasta serta bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang mempromosikan perdagangan dengan Indonesia.
“Kami juga akan mempromosikan peluang studi di Australia terhadap para pelajar di Indonesia. Sebaliknya, juga mempromosikan kepada pelajar di Australia untuk belajar di Indonesia. Saya kira banyak yang bisa dipelajari oleh pelajar Australia di Indonesia karena kekayaan budayanya,” kata Barnes.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dubes-australia-untuk-indonesia-yang-maniak-kopi_20170915_002256.jpg)