Paul Grigson, Dubes Australia yang Cinta Mati Kopi Indonesia
Paul Grigson, Dubes Australia untuk Indonesia merasa beruntung karena dipercaya menjadi pejabat diplomatik di Indonesia. Kopi, salah satu alasannya..
Penulis: Eben Haezer Panca | Editor: Eben Haezer Panca
Paul Grigson, Duta Besar Australia untuk Indonesia merasa beruntung karena dipercaya menjadi pejabat diplomatik di Indonesia. Salah satu hal yang membuatnya merasa sangat beruntung adalah karena Indonesia adalah surga kopi. Di sinilah, dia bisa menikmati berbagai jenis kopi dengan ragam rasanya yang eksotis.
SURYA.co.id | SURABAYA – Paul Grigson tak tahan untuk memasuki area bar tempat meracik kopi di kafe Threelogy Coffee di Jl Mojopahit, Surabaya, Kamis (14/9/2017) sore.
Sebelum pamit meninggalkan kafe tersebut, dia mendatangi seorang anak muda bercelemek. Pemuda bernama Clement Oetomo itu adalah sang pemilik kafe.
“Bolehkah saya masuk ke dalam (ruang penyajian kopi) dan melihat-lihat?” Tanya Grigson kepada pemuda tersebut.
Ditanyai demikian, Clement sama sekali tak keberatan. Dia justru kelihatan bangga. Apalagi orang yang berdiri di hadapannya saat itu adalah Duta Besar dari Australia untuk Indonesia.
Di dalam bar, Grigson dan Clement mulai berdiskusi soal kopi. Grigson tampak antusias bercerita soal hobinya meracik, menyeduh, dan menikmati sajian kopi. Penguasaannya seputar minuman itu memang boleh dibilang sangat luas.
Belakangan, terungkap dari Clement, bahwa saat berdiskusi itu Grigson menyebut bahwa kebanyakan kopi yang disajikan di kafe-kafe di Indonesia, selalu ditambah dengan susu yang di-steam sebanyak dua kali.
“Menurut beliau (Grigson), hal itu berpengaruh terhadap rasa. Kalau di kami (Threelogy Coffee), itu memang tidak kami lakukan,” kata Clement belakangan.
Kepada Surya, Grigson mengakui bahwa dirinya adalah maniak kopi. Dalam sehari, dia bisa menenggak tiga hingga lima cangkir kopi.
Jenis-jenis kopi yang diminumnya pun berganti-ganti sesuai ketersediaan. Namun di kediamannya, Grigson memiliki setidaknya tiga jenis kopi.
Dari kebiasaan menyeruput kopi itu pula, Grigson bisa mengenali karakter bebeberapa jenis kopi di Indonesia.
“Saya kira kopi di Indonesia sangat luar biasa. Tapi dari sekian banyak kopi, saya lebih suka kopi Toraja,” ujarnya.
Diplomat yang dipercaya menjadi Dubes Australia untuk Indonesia sejak Januari 2015 ini menyebutkan, di negaranya kopi adalah komoditas yang sangat digemari masyarakat. Apalagi, di negeri kanguru tersebut, masyarakatnya sangat dimanjakan dengan beragam jenis kopi.
“Dari sekian banyak biji kopi yang masuk ke Australia, lima persennya berasal dari Indonesia,” tutur mantan Dubes Australia untuk Thailand tersebut.
Buka Kantor Konjen di Surabaya
Angka lima persen yang disebutkan Grigson bukanlah yang terbesar di Australia. Namun, seiring dengan semakin tingginya minat petani kopi di Indonesia untuk menanam kopi Arabika, baginya itu akan mendorong peluang ekspor kopi ke berbagai Negara, termasuk Australia.
Dengan demikian, maka akan tumbuh kerjasama ekonomi bilateral yang semakin sama-sama menguntungkan.
Misi untuk meningkatkan kerjasama ekonomi itulah yang menjadi salah satu alasan Pemerintah Australia membuka kantor Konsulat Jenderal (Konjen)-nya di Surabaya, Kamis (14/9/2017), di lantai 3 Gedung ESA Sampoerna Centre, Jl Dr Ir H Soekarno, Surabaya.
Grigson menyatakan, kantor konjen di Surabaya ini adalah perwakilan keempat Australia di Indonesia.
Selain kantor Kedutaan Besar di Jakarta, pemerintah Australia juga telah memiliki kantor Konsulat Jenderal di Bali dan Makassar.
Menurut Grigson, Konjen yang baru ini akan menjadi titik penting untuk memperkuat pedagangan dan mengembangkan kemitraan ekonomi antara perusahaan-perusahaan Australia dan Jawa Timur.
Dia menyebutkan, Surabaya dipilih sebagai lokasi Konsulat Jenderal lantaran merupakan pusat perdagangan di Jawa Timur yang laju pertumbuhan perekonomiannya paling cepat.
Jawa Timur, lanjut Grigson, berkontribusi sekitar 15 persen dari PDB (Pendapatan Domestik Bruto) Indonesia. Sedangkan Surabaya sendiri, baginya adalah kota terbesar kedua di Indonesia. Dua hal itulah yang menjadi alasan penting untuk perdagangan dan investasi Australia.
Sementara itu, Konsulat Jenderal di Australia ini akan dipimpin oleh Konsul Jenderal Chris Barnes.
Barnes sebelumya adalah komisoner dan direktur regional dari kantor perdagangan dan invstasi Australia Barat di Jakarta.
Bagi Barnes, Indonesia bukan tempat yang cukup asing. Pemegang tiga gelar akademis dari Universitas St Andres, Uniersitas Teknologi Sydney, dan Universitas Sydney ini juga pernah menduduki posisi senior di sektor swasta serta bekerjasama dengan kelompok-kelompok yang mempromosikan perdagangan dengan Indonesia.
“Kami juga akan mempromosikan peluang studi di Australia terhadap para pelajar di Indonesia. Sebaliknya, juga mempromosikan kepada pelajar di Australia untuk belajar di Indonesia. Saya kira banyak yang bisa dipelajari oleh pelajar Australia di Indonesia karena kekayaan budayanya,” kata Barnes.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dubes-australia-untuk-indonesia-yang-maniak-kopi_20170915_002256.jpg)