Citizen Reporter

Memori Layar Tancap ala Paravan Pasuruan

tak pelak selama 3 hari pemutaran film yang dihelat Paravan di tiga titik strategis menjadi ajang memori mereka yang mengalami kejayaan layar tancap..

Editor: Tri Hatma Ningsih
pixabay.com
ilustrasi 

Reportase TRI LESTIYONO
Pengajar di SMK N 1 Bangil/Pecinta Film

FILM bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan moral secara halus kepada masyarakat. Itu yang melatarbelakangi komunitas Paravan untuk menggelar Pasuruan Film Exhibition 2017.

Dihelat tiga hari, Selasa-Kamis (15-17/8/2017), enam film diputar oleh komunitas yang sebagian besar anggotanya adalah anak-anak muda Pasuruan yang sedang kuliah di Jember, Malang, dan Yogyakarta.

Mengusung tema Layar Tancepan, Paravan menghadirkan layar lebar yang dipasang di tiga titik strategis, mengingatkan era sebelum marak gedung bioskop.

Ada tiga lokasi yang menjadi tempat pemutaran film, yakni di Balai Dusun Kepuhrejo Beji, lapangan Dusun Mejasem Pandaan, dan lapangan Dusun Luwung Beji.

Enam film yang merupakan karya pelajar di Pasuruan dan film kuratorial diputar. Di antaranya Genre in Lokalisasi (MAN 1 Pasuruan), Ikhlas (SMKN 1 Bangil), Mengejar Dangdut (Gisela), dan Kitorang Basudara (Nindy Raras).

Film-film yang mengangkat tema seputar narkoba, krisis air, dan pergaulan remaja.

Untuk merangkul banyak penonton, masyarakat yang ingin menyaksikan layar tancepan tidak dipungut biaya. Trik ini berhasil, dibuktikan dengan banyaknya penonton yang memadati tempat pemutaran film.

Antusias penonton juga bagus yang dibuktikan dengan sejak fim pertama hingga keenam diputar, penonton tetap setia di tempatnya. Pemutaran layar tancepan seperti menjadi ajang nostalgia bagi penonton yang sempat mengalami kejayaan layar tancap.

Amar Qadavi (20), pegiat Paravan mengungkapkan, even ini sekaligus sebagai wahana bagi para pemuda Pasuruan yang memiliki minat di dunia film untuk mengembangkan potensi dan berkarya seproduktif mungkin.

”Ini cara efektif membuka kesadaran masyarakat untuk merespons isu-isu sosial,” terang mahasiswa jurusan pertelevisian dan perfilman ISI Yogyakarta ini.

Di sela-sela menonton film, panitia juga mengajak penonton untuk berdialog dan menyerap masukan. Banyak usulan tema-tema perjuangan diperbanyak agar bisa dinikmati penonton anak-anak, sekaligus bisa belajari sejarah bangsanya sendiri. Ada pula penonton yang usul agar film horor juga diputar.

Tidak hanya memutar film melalui layar tancepan, Paravan juga berencana akan mengembangkan kegiatan ini dengan menggelar workshop film untuk pelajar Pasuruan. Ini sekaligus sebagai upaya untuk melahirkan sineas-sineas muda berbakat dari Pasuruan.

”Bagus-bagus filmnya, waktunya juga tidak terlalu lama sehingga tidak bikin penonton bosan,” kata Juju, penonton yang datang bersama keluarganya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved