Inilah Para Perempuan Tangguh Penjaga Satwa Kebun Binatang Surabaya
Para perempuan ini terlihat biasa. Tetapi mereka adalah sosok yang menjadi ujung tombak keberlangsungan hidup satwa-satwa di KBS, termasuk yang buas.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Wanita dikenal lebih memiliki perasaan yang peka. Tentunya, sangat menyenangkan jika perasaan itu terbalas. Inilah yang dirasakan keeper atau penjaga hewan saat menjalankan aktivitasnya di Kebun Binatang Surabaya (KBS).
Vega Decline (27), keeper mamalia kecil di KBS, salah satunya. Wanita alumnus pasca sarjana Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Airlangga ini, merasa tertantang bekerja di area binatang liar di KBS. Ia pun rela menempuh perjalanan Mojokerto ke Surabaya untuk mengerjakan rutinitasnya sebagai keeper.
“Saya ada klinik di rumah, jadi ya harus tetap pulang buat ketemu klien. Tapi bekerja sebagai keeper itu cukup menarik. Saya bisa berinteraksi langsung dengan hewan liar,” ungkapnya, saat ditemui Surya di dekat kandang Jerapah, Rabu (12/7/2017).
Berhadapan dengan hewan peliharaan di klinik, dengan hewan di KBS sangat berbeda.
Hal ini ia rasakan saat mendapat tugas menjadi keeper berbagai hewan. Mulai dari aves atau burung yang membuatnya geli hingga komodo yang buas.
“Sempat takut saat membersihkan kandang dan memberi makan komodo. Tetapi kalau kerja dengan hewan ya memang harus berani dan sesuai prosedur agar lancar,” ungkap Vega.
Perilaku hewan yang berbeda-beda membuatnya banyak belajar di luar teori, yang selama ini ia pelajari di kelas.
Setiap harinya, Vega harus memulai pekerjaan dengan membersihkan sekitar lima kandang mamalia kecil. Sambil membersihkan kandang, dirinya juga mengamati pergerakan hewan, apakah terlihat aktif seperti biasanya atau tidak.
“Repot sekali memang, capek, tetapi disitu seninya,” ujarnya.
Jangan Ragu
Hal serupa dirasakan Raya Citari (23), keeper di area Kids Zoo ini merasa untuk berkenalan dengan hewan yang dijaga butuh tekad yang besar. Niat tulus dan menyayangi hewan dari hati harus benar-benar dimiliki.
“Kalau sama hewan itu enak, bisa pakai hati. Kalau takut malah dia nyerang, karena dikira mau menyakiti. Jadi, kalau sudah tidak ragu ya mereka percaya. Bahkan, saya pernah ngasih makan beruang lewat tangan langsung,” ujarnya.
Berbagai isu yang beredar terkait kelalaian pengelola pada hewan, kata Raya, tidak terjadi. Sebab hewan memiliki nutrisionis yang mengatur kebutuhan makan mereka. Hanya saja memang banyak satwa yang telah tua.
“Ya sebelum masuk dengar banyak isu, setelah tahu sendiri ternyata mereka makan cukup. Kalau mati ya karena usia,” ungkap alumnus D3 Kesehatan Ternak Unair ini..
Namun, menurut alumnus SMA NU 1 Gresik ini, selama ini banyak hewan yang hidup lebih lama dibanding perkiraan umur tertua di alam liar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/para-keeper-satwa-di-kebun-binatang-surabaya_20170712_222948.jpg)