Jumat, 17 April 2026

Ribuan Warga Padati Ritual Adat Seblang yang Kental Nuansa Mistis di Banyuwangi

Ritual mistis yang melibatkan "arwah" mengundang ketertarikan ribuan orang di Banyuwangi. Seperti ini ritualnya...

Penulis: Haorrahman | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Penampilan penari Seblang saat kerasukan. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Ribuan penonton, baik tua, muda, maupun anak-anak memadati penutupan ritual adat Seblang Olehsari, di Desa Olehsari, Kecamatan Glagah, Banyuwangi, Kamis (6/7/2017) petang. 

Perlu dikethaui, Seblang merupakan ritual tanda ungkapan rasa syukur atas keselamatan desa yang dituangkan dalam bentuk gadis belia yang menari dalam kondisi kerasukan arwah leluhur.

Gadis belia yang menjalani ritual penari seblang ini, harus memenuhi syarat utama, yakni belum mensturasi dan memiliki ikatan keturunan penari seblang.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Budaya dan Pariwisata M. Yanuarto Bramuda mengatakan, ritual adat ini digelar selama tujuh hari berturut turut, sejak Jumat (30/6/2017) hingga Kamis (6/72017).

Setiap hari, ritual dimulai pukul 14.00 dan berakhir menjelang Maghrib.

"Di penutupan seblang, digelar Ider Bumi mengelilingi kampung sebagai bentuk syukur masyarakat," kata Bramuda.

Pada hari ketujuh atau di hari penutupan, Seblang diarak keliling desa yang disebut ider bumi. Dia akan berjalan beriringan bersama pawang, sinden, dan seluruh perangkat menuju empat penjuru.

Penjuru tersebut adalah Situs Mbah Ketut yang dianggap awal berdirinya desa Olehsari, lahan Petahunan, Sumber Tengah, dan berakhir di Balai Desa.  Prosesi itu mengakhiri ritual Seblang Olehsari.

Ritual adat tahunan ini merupakan agenda Banyuwangi Festival 2017. Bramuda mengatakan, ritual adat ini berlangsung sakral dan magis.

Sebelum acara dimulai, diawali dengan pawang membawa penari ke pentas, untuk memasang mahkota berupa omprok yang dihiasi janur kuning dan beberapa macam bunga segar di atasnya. Setelah itu para pawang membacakan mantra untuk memasukkan roh Sang Hyang ke dalam tubuh sang penari.

“Di Banyuwangi tradisi Seblang ada dua, Seblang Olehsari dan Seblang Bakungan. Tradisi Seblang Olehsari digelar di bulan Syawal dan dibawakan oleh gadis muda. Sementara Bakungan digelar di setiap bulan Dzulhijjah setelah Idul Adha, penarinya dari kalangan tua yang sudah menopause,” kata Bramuda.

Untuk menarikan Seblang, seorang penari harus kerasukan roh dari leluhur. Proses masuknya roh ini diiringi 28 lantunan gending, yang diawali Gending Lukinto.

Gending ini dipercaya oleh masyarakat Olehsari sebagai pemanggil arwah atau sebuah kekuatan halus untuk datang ke ritual seblang.

Setelah penari dalam kondisi trans atau kerasukan, pertunjukan dilanjutkan dengan iringan gending-gending Using lainnya seperti gending Liliro Kantun, Cengkir Gadhing, Padha Nonton Pupuse, Padha Nonton Pundak Sempal, Kembang Menur, Kembang Gadung, Kembang Pepe, dan Kembang Dermo.

Pada saat gending Kembang Dermo ini dibawakan, penari Seblang membawa tampah yang berisi bunga yang bernama Bunga Dermo.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved