Citizen Reporter Ramadan

Nikmatnya Khataman di Yaman

khataman Al Quran, aktivitas yang tak pernah ditinggalkan di Tarim, Yaman .. lebih-lebih di bulan Ramadan, saatnya mendulang ganjaran mulia dari Allah

Editor: Tri Hatma Ningsih
m caesar muarif/citizen reporter
Khataman di salah satu masjid di Tarim, Yaman 

Reportase M Caesar Muarif
Mahasiswa tingkat III di Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Al Ahgaff, Tarim, Yaman

 

RAMADAN, di bulan yang sangat istimewa inilah diturunkan Al Quran bagi umat muslim sebagai pedoman hidup. Menerapkan, mengaplikasikan, dan mencintai Al Quran menjadi satu keharusan bagi umat muslim. 

Salah satu cara mencintai Al Quran dengan sering membaca dan menadabburi ayat-ayatnya. Lebih-lebih di bulan Ramadan ini.

Begitu pula halnya di Tarim, Yaman, tempat saya berdomisili saat ini. Ada hal menarik yang mereka lakukan untuk selalu menumbuhkan rasa cinta terhadap Al Quran, dengan khataman.

Memasuki paro Ramadan, jadwal khataman di masjid-masjid sudah tersusun rapi, lengkap dengan tanggal dan waktunya. Jadwal-jadwal itu langsung disebar ke setiap pelosok distrik sehingga ketika khataman, ribuan warga kota kecil ini dipadati warga dengan sukacita.

Khataman biasa dimulai setelah salat tarawih, waktunya tergantung kapan dilaksanakannya tarawih di masjid tersebut. Sebab, di Tarim, setiap mesjid punya waktu tarawih berbeda-beda, dari selepas salat isya hingga menjelang sahur.

Meskipun begitu, warga biasanya sudah hadir sejak sore hari. Mereka menunggu waktu khataman dengan berlomba-lomba meningkatkan tambahan bacaan Al Quran agar bisa bersama-sama mengkhatamkan dengan sang imam.

Menariknya, Al Quran dikhatamkan dalam salat tarawih dengan dibagi per rakaatnya maksimal dua surat dimulai dari surah Al Layl, juz 30. Ketika salat tarawih selesai, begitu pula dengan bacaan Al Qurannya.

Setelah itu, acara dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa khataman dari sang imam, dan siraman rohani dari beberapa tokoh ulama setempat. Biasanya di sela-sela itu akan dibagikan wedang jahe khas Tarim sebagai penghangat suasana malam dan sekantong samburoh, sejenis kacang-kacangan yang membuat khataman terasa lebih khidmat dan nikmat.

Khataman seperti ini warisan turun temurun dari generasi ke genarasi warga Tarim. Hal semacam ini dilakukan agar para pemuda, khususnya anak-anak di tiap generasi bisa mengenal dengan mudah dan mencintai pemberian Allah itu.

Ketika di luar Ramadan, acara serupa masih dilakukan dalam tempo seminggu sekali di masjid-masjid, lengkap dengan pengajian rutin tafsir mingguan.

Hal lumrah jika menemui remaja-remaja di Tarim sudah hafal Al Quran dengan sempurna di usia yang masih muda. Luar biasa memang, ketika zaman terus menawarkan pedoman-pedoman yang menyesatkan, masyarakat Tarim terus membentengi diri dan generasinya dengan tetap berpegang teguh pada Al Quran dan sunah Rasulullah saw.

Semoga kita senantiasa diberi taufiq oleh Allah agar bisa mencintai Al Quran dan mengaplikasikannya dalam kehidupan layaknya orang Tarim. Aamin... wallahu 'alam...

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved