Pesona Ramadan
Simbol - simbol Islam dalam Masjid Satu Tiang di Tuban
Pengasuh Ponpes Wali Songo KH Nur Nasroh Hadiningrat menceritkan, pembangunan Masjid Satu Tiang dimulai pada 1994.
SURYA.co.id | TUBAN – Masjid An-Nur Nurul Miftahussofyan di Dusun Gomang, Desa Lajulor, Singgahan, Tuban memiliki satu tiang tinggi-besar yang terbuat dari batang pohon jati (Tectona grandis).
Tiang setinggi 27 meter dan berdiameter 85 sentimeter itu berada tepat di tengah masjid. Tiang ini pun tampak menojol dan seakan menjadi satu-satunya tiang di masjid tersebut.
Kondisi ini yang membuat masjid itu dikenal dengan nama lain Masjid Satu Tiang.
Selain tiang tersebut, sebenarnya masjid itu disanggah juga oleh delapan tiang lain yang dipasang di bawah atap-pinggir masjid.
Tiang-tiang ini berukuran jauh lebih kecil sehingga terlihat tak mencolok. Mayoritas bangunan masjid di lingkungan Pondok Pesantren Wali Songo itu berbahan dari kayu jati – kayu yang dikenal kokoh itu.
Pengasuh Ponpes Wali Songo KH Nur Nasroh Hadiningrat menceritkan, pembangunan Masjid Satu Tiang dimulai pada 1994.
Masjid baru dibangun beberapa tahun setelah ia mengabdikan diri di dusun yang terisolir itu dan membangun ponpes pada 1977. Saat itu, jumlah penduduknya sekitar 12 kepala keluarga dan masih lekat dengan tradisi penyembahan matahari.
Sebelum mengabdi di sana, Nur Nasroh menyelesaikan pendidikan pesantren di beberapa ponpes di Nusantara. Sang kiai yang memintanya untuk mengabdikan diri di Gomang.
“Sampai tahun itu (1994) saya masih masih kebingungan lantaran belum punya masjid. Sampai-sampai, sempat empat kali berpindah lokasi untuk salat Jumat. Mulai dari menggunakan musala hingga memanfaatkan ruang pengajian,” kisahnya.
Surya.co.id pernah meliput keberadaan masjid itu delapan tahun silam. Bantuan pembangunan masjid diberikan oleh Miftah (menjabat ADM Perhutani saat itu) dan Sofyan (Asper).
"Makanya, untuk mengenang, nama kami bertiga diputuskan untuk digunakan sebagai nama masjid ini,” sambungnya.
Nasroh menyiapkan arsitektur pembangunan masjid tersebut. Ia juga ingin berkaca pada ajaran Walisongo. Untuk itu, ia memutuskan untuk mulai membangun masjid di hari Minggu.
Tahap awal pembangunan ini dimulai dari pendirian kayu untuk tiang utama. Mendirikan tiang sebesar itu tentu tak mudah.
“Awalnya, disiapkan dengan cara diberi pengait tali dari kulit bambu. Tapi menjelang pembangunan saya berpikir beberapa kali karena menganggap hal itu sepertinya tidak mungkin. Masak kayu sebesar itu hanya ditarik bersama-sama dengan tali dari kulit bambu?” ujarnya.
Hari Kamis sebelum pembangunan dimulai, Nasroh mencoba mendirikan tiang itu sendirian. Setelah tali kulit bambu itu ditarik, batang pohon jati itu pun berdiri. Ia pun merasa aneh atas kejadian tersebut. Ia yakin, pendirian tiang tersebut berkat campur tangan Allah.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/masjid-satu-tiang-tuban_20170606_194025.jpg)