Citizen Reporter Ramadan

Inilah 5 Warisan Berharga Kiai Dimyathi Romly

bukan harta benda, tapi nasehat dan pitutur inilah yang diwariskan KH Dimyathi Romly kepada anak cucu, murid, santri, dan mereka yang melek hatinya...

Editor: Tri Hatma Ningsih
istimewa
ilustrasi 

Reportase Suci Aristanti
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam UIN Maulana Malik Ibrahim (Mliki) Malang

IKATAN Mahasiswa Alumni Darul Ulum (Imadu) se-Malang raya membedah buku Kabeh Wes Ono Tulisane di aula gedung C Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang, Kamis (11/5/2017).

Buku perjalanan hidup KH A Dimyathi Romly yang meninggalkan banyak pelajaran, pesan dan teladan itu ditulis Hj Soraya Dimyathi, ST, anak ketiga Kiai Dimyathi.

Dr H Syamsyuddin Djauhari MS, alumnus senior Pondok Pesantren Darul Ulum, mengatakan, buku Kabeh Wis Ono Tulisane ini mampu menjadi obat rindu kepada sosok Kiai Dim, mursyid tarekat qadiriyah wan naqsabandiyah.

Pengasuh Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang ini seperti dituturkan Hj Soraya Dimyathi, berbagi dawuh-dawuh, pesan, dan teladan.

Di antaranya, pertama, semeleh karena urusan dunia itu sepele. Seperti sosok Kiai Dim yang nriman karena dalam prinsipnya, tak ada masalah yang tak bisa diselesaikan. Masalah datang dan pergi, maka jangan sibukkan diri dengan masalah kecuali ingin terbenam bersamanya.

Kedua, lek subuhe apik, kabehe bakal apik. Bila salat subuhnya bagus, semuanya akan bagus. Artinya, harus dimulai dengan niat yang baik.

Nasihat ini mengisyaratkan bila ingin mendapatkan kebaikan, maka mulailah dengan kebaikan pula.

Ketiga, ngaji iku gak popo turu, asal gak ngomong. Tidur saat ngaji itu tidak apa-apa, asal jangan berbicara. Nasihat ini bagian dari meminimalisir mudarat. Karena bila tidur saat pengajian, yang rugi diri sendiri. sedangkan bila berbicara, itu selain diri sendiri juga merugikan orang lain.

Keempat, dadi wong apik iku kumpulono kabeh, ojo pilih-pilih. Bertemanlah dengan siapa saja, jangan pilih-pilih teman. Pertemanan mengajarkan ukhwah. Sikap Kiai Dim yang selalu ramah membuat beliau diterima semua kalangan.

Kelima, kabeh wis ono tulisane. Semua sudah ada tulisannya. Allah telah menggariskan jalan hidup manusia. Artinya, berprasangka baik kepada Allah adalah bentuk kepasrahan dan keridaan atas semua kehendakNya. Oleh karena itu, yang harus manusia lakukan adalah membumikan usaha dan melangitkan doa.

Hj Soraya Dimyathi  berharap buku yang menceritakan kisah kehidupan Kiai Dim ini dapat dijadikan teladan bagi generasi kemudian.

Sebagaimana doa Nabi Ibrahim, waj’al li lisana sidqin fil akhirin. Dan, jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian.

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved