Citizen Reporter
In Memoriam KH Abdul Aziz Marwi Hasba
..hanya dengan mengingat teladan orang-orang saleh, rahmat akan turun dari Allah SWT… selamat jalan Kiai Aziz ...
Reportase M Hasyim Azhari
Santri Pondok Pesantren Ulul Albab Candisari, Lumajang
BERSAMA teman-teman santri yang lain, kami masih sempat mengaji kitab bersama Kiai Aziz, sebelum esoknya, Selasa (2/5/2017), kiai masuk rumah sakit dan Sabtu (6/5/2017), meninggalkan kami semua dalam usia 65 tahun.
Serasa berat harus menerima kenyataan kepergian Kiai Aziz. Hampir tujuh tahun nyantri di PP Ulul Albab Candipuro, Lumajang, tentu semua santri, pun saya, menyongsong harapan dan manisnya masa depan dengan mengharap barokah ilmu yang beliau ajarkan.
Kiai Aziz, lahir di Desa Panti, Kecamatan Rambipuji, Kabupaten Jember, pada tanggal 14 Mei 1952. Semasa kecilnya, Kiai Aziz memang tak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah formal, bahkan saat di sekolah dasar pun beliau tidak sampai tamat.
Namun ayahnya, KH Hasan Baisuni, pengasuh Pondok Pesantren Al-Hasan Bunut, Jember waktu itu, menjadi guru pribadinya dengan mengajarkan ilmu keagamaan (kitab kuning), ilmu sosial dan sebagainya. Beranjak dewasa beliau nyantri di Pondok Pesantren Busatanul Ulum Jember, Pondok Pesantren Al-Khozini Buduran, Sidoarjo, hingga Pesantren Panji di Surabaya.
Masa-masa mondok, Kiai Aziz pernah menjadi juara satu penghafal nazom Al-Fiyah yang isinya seribu bait. Bahkan pernah mendapat tawaran gelar Doktor Honoris Causa, namun ditolaknya. Hanya buku, apapun jenis dan genrenya yang sejak kecil sanggup mengusiknya. Belajar otodidak tanpa mengenal batas ruang dan waktu terus Kiai Aziz lakukan hingga akhir hayatnya, dengan penuh semangat.
Tahun 1976, sosok bernama lengkap KH Abdul Aziz Marwi Hasba itu dimantu KH Abdullah Yaqin, pengasuh Pondok Pesantren Bustanul Ulum Jember. Di sanalah Kiai Aziz mengamalkan ilmunya selama kurang lebih 12 tahun. Hingga pada tahun 1989 Kiai Aziz berkomitmen mendirikan pesantren sendiri di Kabupaten Lumajang.
Beserta keluarga kecilnya Kiai Aziz hijrah ke Candipuro, Lumajang dengan niatan menyiarkan agam Islam dan mencerdaskan anak-anak di sana atas ridho dan izin Allah SWT. Di Pondok Pesantren Ulul Albab Candipuro, selama kurang lebih 28 tahun Kiai Aziz mengabdi tanpa pamrih, menyalurkan ilmu di pesantren yang didirikan demi mencerdaskan generasi Qurani bangsa ini.
Sebelum perjalanan menuju makbaroh (liang lahat), keluarga, Pemerintah Kabupaten Lumajang, dan tokoh masyarakat setempat menggambarkan Kiai Aziz, sebagai sosok yang layak diteladani.
“Beliau memang bergerak dalam bidang (ilmu) keislaman sejak kecil,” dawuh KH Muzammil Hasba.
“Saya sangat kehilangan sekali sosok kiai yang sering menasehati ini. Salah satu ulama kita telah diambil olehNya,” ujar Bupati Lumajang, KH As’at.
KH Lutfi Ahmad, mewakili tokoh masyarakat menyampaikan kesaksian (tasyhid), “beliau ahli ilmu dan itu tidak diragukan lagi.”
Keteladanan yang dapat dipetik dari kehidupan dan pribadi Kiai Aziz adalah, semangat belajarnya yang sangat tinggi, senantiasa menyampaikan kepada santri-santrinya agar selalu berada di jalan Allah SWT, dan tak mudah patah semangat.
“Sengak abelajar se rajin, derres ketab-pah (belajar yang rajin, mutola’ah kitabnya),” pesan Kiai Aziz.
Ternyata, tak dibutuhkan pangkat untuk menjadi sosok yang berguna, menebar kebaikan, bersemangat tinggi, dan keikhlasan menjadi patokan utamanya. Itulah kesimpulan yang menyentak di tengah kesedihan yang saya rasakan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kh-abdul-aziz-marwi-hasba_20170507_204636.jpg)