Senin, 20 April 2026

Yang Lokal dari Madura dalam Karya Sastra

Jika ingin memahami karakter masyarakat, bacalah karya sastra yang memuat kearifan lokalnya. Karya itu cerminan pola pikir, perilaku, dan kebudayaan

|
Editor: Adrianus Adhi
istimewa
SASTRA MADURA - Setya Yuwana, guru besar dari Universitas Negeri Surabaya memaparkan pentingnya memasukkan unsur kearifan lokal Madura ke dalam karya sastra dalam Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif bersama Komunitas Masyarakat Lumpur Bangkalan di ruang pertemuan SMK Negeri 1 Mlajah, Bangkalan, Sabtu (18/4/2026). 

Oleh: Hayyul Mubarok, Mahasiswa S-3 Bahasa dan Sastra Universitas Negeri Surabaya (24020956039@mhs.unesa.ac.id)

SURYA.co.id - Jika ingin memahami karakter masyarakat, bacalah karya sastra yang memuat kearifan lokalnya. Karya itu merupakan cerminan pola pikir, perilaku, dan kebudayaan. Ada banyak cara untuk mengungkapkan karakter masyarakat melalui karya sastra. Sastra yang diproduksi sastrawan dari komunitas sastra berperan penting bagi pembangunan karakter.

Itu yang terjadi di Komunitas Masyarakat Lumpur (KML), komunitas sastra yang tumbuh di Bangkalan sejak 22 tahun yang lalu. Hingga sekarang spirit mereka untuk berkarya tetap dipertahankan. Itu yang tampak pada Pelatihan Penulisan Sastra Kreatif Berbasis Kearifan Budaya Lokal Madura untuk Meningkatkan Kompetensi Publikasi Karya Sastra bagi Anggota Komunitas Masyarakat Lumpur, Bangkalan, Sabtu (18/4/2026).

Pelatihan berlangsung di ruang pertemuan SMK Negeri 1 Bangkalan, Jalan Kenanga 4 Mlajah, Bangkalan pukul 08.00-14.30 WIB. Pematerinya Setya Yuwana Sudikan, Guru Besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), M Shoim Anwar (dosen Universitas PGRI Adi Buana Surabaya), Titik Indarti (dosen Unesa), Endah Imawati (dosen IKIP Widya Darma), Arafat Nur (penulis novel), Kukuh Setyo Wibowo (penulis dan jurnalis), serta M Helmy dan Rozekki (Komunitas Masyarakat Lumpur).

Yuwana memaparkan, kearifan lokal Madura sebagai inspirasi penulisan sastra Madura. Ia mengingatkan, ada banyak penulis sastra dari Madura yang diperhitungkan karena karyanya yang patut diapresiasi. Selain Abdul Hadi WM dan KH D Zawawi Imron, penulis-penulis lain bermunculan.

"Kekuatan karya dengan memunculkan lokalitas khas Madura menjadi nilai lebih. Kearifan lokal memberikan karakter kuat pada karya sebagai refleksi identitas budaya dan sarana pelestarian nilai-nilai masyarakat,” kata Yuwana. 

Karakter itu muncul dalam karya-karya penulis baik yang bergabung dalam komunitas sastra maupun tidak. Komunitas sastra menjadi salah satu basis penting mengingat dari komunitas yang sudah eksis biasanya muncul sastrawan dengan karya yang khas. Komunitas sastra yang sudah eksis biasanya memiliki cara tersendiri untuk menggembleng anggotanya. Salah satu komunitas sastra yang eksis di Madura adalah Komunitas Masyarakat Lumpur. M Helmi, salah satu pendirinya mendorong anggotanya untuk menulis dan memiliki ciri khas. Itu yang disampaikan Rozekki, salah satu pemateri yang juga anggota KML.

“Cara yang dilakukan unik. Semua wajib menulis puisi untuk belajar mendapatkan diksi puitis. Ketika saya menulis puisi kali pertama, hanya ada satu kata yang dilingkari yang berarti itu adalah pilihan kata yang puitis,” ungkap Rozekki yang mengaku kaget melihat koreksi dari Helmi itu.

Pantang menyerah, ia membuat puisi lagi. Kali itu hanya dua kata yang dilingkari dan Rozekki makin penasaran. Ia membuat lagi dan lagi hingga akhirnya seluruh kata dilingkari. Itu artinya, Rozekki dianggap mampu menghadirkan diksi yang diinginkan. Kekuatan semacam itu pula yang akhirnya membuat anggota KML mengembangkan diri. 

Selain Setya Yuwana yang mengingatkan pentingnya menggunakan kearifan lokal dalam karya sastra, M Shoim Anwar juga demikian. Shoim yang sering menjadi juri penulisan cerpen dan buku itu menunjukkan, memasukkan unsur lokal dalam karya menjadikan karya itu menjadi kaya dan unik. 

“Biarkan saja istilah lokal masuk karena itu menjadi kekuatan seperti karya Muna Masyari, Rokat Tase. Kekhasan itu yang akan memberi nilai lebih pada karya sastra,” ujar Shoim yang juga cerpenis itu.

Karya-karya itu akan mendapat apresiasi ketika masyarakat luas menikmatinya. Selain menjadi buku yang diterbitkan, cara lain adalah dengan memublikasikan melalui media baik media cetak maupun digital. Peluangnya cukup besar, tetapi juga membuka risiko yang harus diantisipasi. 

“Salah satu risiko itu adalah mudahnya karya yang ada di media digital diplagiasi,” kata Endah Imawati.

Meski demikian, peluang mendapatkan apresiasi lebih cepat dan banyak karena pembaca dapat langsung memberi komentar. Apresiasi itu dapat dijadikan pendorong untuk membuat karya lebih menarik. 

Shoim memberi kiat agar cerpen menarik pembaca. Salah satunya dengan membuat judul yang menjadikan orang ingin tahu. 

“Selain itu, penulis pemula dapat menggunakan pengalaman pribadi sebagai bagian dari cerita. Karena sudah mengalami, biasanya detailnya juga mudah diungkapkan. Jangan lupa, samarkan nama atau segala sesuatu yang bisa mengarah pada kita,” kata Shoim.

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved