Berita Gresik
Garda Bangsa Gresik Gelar Musabaqoh Kitab Kuning, seperti ini Tujuan Utamanya
Ketua Panitia MKK Gresik, M Luthfi Khambali menerangkan MKK ini digelar secara nasional oleh Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa.
Penulis: Mohammad Romadoni | Editor: Parmin
SURYA.co.id | GRESIK - Dewan Koordinasi Cabang (DKC) Garda Bangsa Kabupaten Gresik, PKB menggelar Musabaqoh Kitab Kuning (MKK) tingkat Gresik.
Rencananya, acara bertajuk Khazanah Kaum Santri untuk Kebangkitan Bangsa itu bakal dilaksanakan di Aula Aswaja PCNU Gresik pada Jumat (8/4/2017) pekan depan.
Adapun sejumlah kategori yang akan dilombakan, antara lain, Hifdhum Nadhom dan Qiroatul Kutub.
Ketua Panitia MKK Gresik, M Luthfi Khambali menerangkan sebetulnya acara MKK ini digelar secara nasional oleh Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa melalui Garda Santri.
Menurutnya, untuk tingkat kabupaten digunakan sebagai babak penyisihan atau tingkat ula yang diselenggaralan di masing-masing Garda Santri kabupaten.
“Tidak ada biaya pendaftaran alias gratis. Peserta boleh dari santri maupun santriwati pondok pesantren se-Kabupaten Gresik. Selain itu, peserta didik dari sekolah tingkat Madrasah, MTs dan Aliyah serta mahasiswa yang memiliki keahlian membaca kitab kuning dipersilahkan untuk mendaftar," ujar M Luthfi Khambali, Senin (3/4/2017).
Kendati demikian, ada sejumlah persyaratan bagi peserta yang ingin mengikuti MKK ini, yakni peserta adalah yang berhaluan ahlussunnah wal jamaah atau aswaja. Kemudian batas usia maksimal 20 tahun.
"Tentunya wajib memiliki rekomendasi dari pimpinan. Namun untuk pesantren bisa mendapat rekom dari kepala sekolah atau sederajat," ungkapnya.
Dia mengajak semua pondok pesantren yang ada di Kota Santri ini untuk turut berpartisipasi dan mempunyai perwakilan.
"Di Kota Gresik banyak pondok Wringinanom sampai pulau yang terjauh yakni Bawean," imbuhnya.
Di sisi lain, Ketua DKC Garda Bangsa Gresik, Sholihudin AY mengaku budaya membaca kitab kuning mulai berkurang. Sebab, banyak orang yang suka praktis membaca buku islam.
“Mereka lebih membaca terjemahan Bahasa Indonesia, dibandingkan dengan aslinya seperti dalam kitab kuning,” ulasnya.
Menurut dia, kitab kuning memiliki nilai luhur dan original. Oleh sebab itu, MKK yang baru pertama kali digelar tersebut nantinya dapat mempertahankan budaya dan untuk kebaikan bangsa.
“Itu juga bisa menguatkan nila-nilai dan menjaga Islam Aswaja yang telah menyatu dengan jati diri Bangsa Indonesia. Tak hanya itu, ini juga sebagai wujud syiar islam ke masyarakat, tandasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/garda-bangsa-gresik_20170403_193459.jpg)