Liputan Khusus Pomade
Pomade, Tren 'Obat Ganteng' Kaum Adam yang Bikin Pemakainya Percaya Diri
Ia pun sering merasa kurang percaya diri saat beraktivitas tanpa mengoleskan pomade ke rambutnya.
SURYA.co.id | SURABAYA - Yudha Prasetya (30) merasa tak percaya diri bila rambutnya tak tertata rapi ketika bertemu rekanan kerja.
Ia bahkan pernah menunda pertemuan dengan rekanan penting cuma gara-gara lupa merapikan rambutnya pakai pomade.
Yudha percaya, berpenampilan maksimal saat bertemu dengan calon rekan bisnis adalah salah satu kunci terjalinnya kerja sama.
Kejadian itu dia alami beberapa bulan yang lalu. Namun saat ditanya pengalaman paling menarik selama menggunakan pomade, ia langsung teringat kisah tersebut.
“Bagi saya, dalam pertemuan penting harus tampil tidak biasa agar orang lain yakin. Jadi ceritanya saat itu saya habis dari kantor, tidak sempat persiapan mau ketemu. Akhirnya saya undur,” kenang pria yang tinggal di daerah Araya, Kecamatan Blimbing, Kota Malang itu, Sabtu (25/3/2017).
Pomade, bagi dia, bagai kebutuhan pokok. Sudah sekitar empat tahun dia memakai ramuan khusus itu untuk melicinkan rambut lurusnya.
Tepatnya, yakni ketika Yudha mengubah gaya rambut dari jabrik jadi undercut.
Dengan beberapa kali mencoba produk, ia merasa paling cocok dengan pomade jenis oil based buatan luar negeri.
“Pomade addict (pecandu pomade),” kata Yudha, mengumpamakan dirinya saat ini.
Beberapa tahun lalu, Yudha adalah seorang model. Kini dengan beberapa pekerjaan lain, dia mulai menjalankan agensi dan sekolah model.
Sejak pertama menggunakan hingga saat ini, Yudha selalu memakai pomade dalam setiap kegiatan.
Khusus di rumah, ia memilih membiarkan rambutnya natural. Meski meyakini aman, ia tetap memberi waktu “bernafas” bagi rambut dari zat-zat apapun.
Sebelum menggunakan pomade, dia memakai beberapa jenis minyak rambut. Yang terakhir adalah wax.
Berdasarkan informasi yang beredar, menurut dia, pomade adalah produk yang lebih aman bagi kesehatan rambut.
“Pomade itu juga diproduksi dengan (campuran) bahan-bahan alami,” ujarnya.
Bapak tiga anak itu juga merasa lebih percaya diri taktala rambutnya tampak klimis setelah diolesi pomade.
Ari (30), pegawai bank swasta yang tinggal di daerah Pondok Jati, Kabupaten Sidoarjo, juga termasuk kategori pecandu pomade.
Ia pun sering merasa kurang percaya diri saat beraktivitas tanpa mengoleskan pomade ke rambutnya.
Itu sebabnya, pomade menjadi barang wajib ada di tas Ari. “Sekarang pomade jadi obat Pede (Pecaya Diri). Obat ganteng,” selorohnya.
Ketika berpergian keluar kota dalam waktu satu atau dua hari, Ari selalu membawa pomade ukuran kemasan kecil.
Karena selalu sedia pomade, Ari tak pernah mengalami pengalaman pembatalan janji seperti yang pernah Yudha alami.
Pria yang sudah menggunakan pomade sejak 2014 itu memilih produk water based. Kepraktisan jadi alasannya.
Ia pernah menggunakan pomade jenis oil based. Namun, Ari justru merasa ribet.
Dia harus keramas setiap waktu untuk benar-benar membersihkan rambutnya.
Sementara dengan produk jenis water based, pomade bisa hilang hanya dengan disiram air.
“Saya sekarang lebih sering pakai yang water based. Disiram air, langsung luruh (pomadenya). Dulu rambut saya klimis, pakai yang oil based. Tapi kepala sering sakit karena rambut saking keras dan kakunya,” tutur dia.
Ari menganggap, pomade tak terlalu berbeda dengan minyak rambut yang lain. Hanya ia merasa lebih cocok karena variannya lebih banyak.
Mulai dari pilihan karakter kekuatan saat diaplikasikan ke rambut, aroma, hingga tingkat kekilapan.
Bukan hanya para pekerja, tren pomade juga menyasar para anak muda.
Kavin Tantra (19) Mahasiswa Semester 2, Program Studi Teknik Sipil, Universitas Kristen Petra, juga gandrung dengan produk minyak rambut yang sempat popular puluhan tahun sebelumnya itu.
Saat memangkas rambutnya di salah satu barbershop di daerah Siwalankerto, Surabaya, Kavin lansung mengiyakan saat tukang cukur, dalam bahasa kerennya disebut barberman, menawarkan penggunaan pomade sebelum bangkit dari kursi dengan cermin besar.
“Sudah setahun ini soalnya mencoba gaya potongan undercut,” kata dia.
Sebelum mengenal dan akhirnya memakai pomade setahun terakhir, dia menggunakan minyak rambut jenis wax.
Bedanya dengan Yudha dan Ari, Kavin tak terlalu fanatik pada pomade.
Dia memilih salah satu produk pomade lokal yang dijual dalam kemasan 100 gram.
Kavin juga tak setiap hari menyentuh pomade. Saat buru-buru ke kampus namun tak sempat mengeringkan rambut, misalnya, ia lebih memilih membiarkan rambutnya tanpa pomade.
Menurut pengalamannya, penggunaan pomade maksimal jika rambut dalam keadaan benar-benar kering. (M Taufik/Samsul Hadi/Aflahul Abidin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-lipsus-pomade_20170328_071431.jpg)