Sambang Kampung
Kampung Arab di Ampel Kebanjiran Rezeki dari Maraknya Jamaah Umroh
Kawasan Sunan Ampel di Surabaya juga dikenal sebagai kampung Arab. Di sini, para pedagang semakin kebanjiran rezeki karena semakin banyaknya umroh.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Tidak hanya terkenal dengan ikon Makam Sunan Ampel, Kelurahan Ampel, Kecamatan Semampir, Surabaya, juga dikenal sebagai kampung Arab.
Ini karena di seputar kawasan religi Ampel banyak terdapat pedagang grosir dan eceran yang menjual barang-barang kebutuhan umat muslim. Mulai mukena, sajadah, parfum, hingga oleh-oleh Arab, seperti kurma, kacang Arab, juga air zam-zam.
Kini, semakin lama waktu antrian haji untuk masyarakat Indonesia, justru membawa berkah bagi pedagang di Kampung Arab. Sebab mereka memiliki pelanggan baru, yaitu warga yang mencari oleh-oleh untuk umrah.
Hal itu diakui Taufik Bamukmin, penjual pernak-pernik oleh-oleh haji di Jl Sasak. Taufik mengatakan, tiga tahun terakhir peak season di tokonya berubah.
“Biasanya ramai saat musim haji dan bulan puasa jelang Lebaran. Sekarang setiap hari ada saja yang mencari oleh-oleh,” ujar Taufik, yang ditemui Surya, Kamis (23/3/2017).
Bahkan, ia menyebut, peningkatan penjualannya mencapai 40 persen. Sebab yang dijual Taufik bukan hanya alat sholat saja, melainkan kurma, juga air zam-zam.
“Kurma banyak yang mencari. Sebab kalau di taruh bagasi kan bikin overload. Jadi banyak yang beli dari sini,” terangnya.
Toh kurma yang dijual di tokonya didatangkan langsung dari Arab Saudi dan dipusatkan di pengepul. Jenisnya bermacam-macam. Terbanyak diminati, kurma ajwa, yang bisa laku sampai 50 kilogram perhari.
Taufik mengungkapkan, usaha yang dijalani ini merupakan bisnis keluarga yang sudah dijalankan generasi kedua. Sekarang ini, sudah menjadi jujukan pencari oleh-oleh haji lantaran suplai barang yang selalu ada dan lengkap.
“Kami jaga kualitas. Kalau dilihat di sini nggak hanya jualan kurma saja, tapi ada kitab, mukena, dan cokelat. Mau beli berapa saja dilayani,” ujarnya.
Rata-rata warga di Jl Sasak ini tidak hanya punya satu outlet toko. Taufik sendiri punya lebih dari dua outlet di jalan ini.
Peningkatan pembeli lantaran banyak warga yang umrah, juga diakui Said. Sebagai penjual Songkok, ia mengatakan, omzetnya bisa meningkat sampai tiga kali lipat.
“Biasanya jual kopiah 40 kodi, saat ini bisa sampai 150 kodi,” ujarnya.
Saat ini, ia biasa menjual secara grosir ke banyak daerah hingga luar pulau, seperti Kalimantan.
Lalu Lintas Semrawut
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kampung-arab_20170323_231616.jpg)