Ekonomi Bisnis

Langsung Ekspor, PT Miwon Kucurkan Investasi Rp 1,2 Triliun Untuk Corn Starch dan Sweetener

Ditargetkan mulai Mei 2017, produksi bisa mencapai kapasitas pabrik 240 ton per hari untuk corn starch dan 210 ton per hari untuk sweetener.

Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Musahadah
surya/sugiharto
Dari kiri ke kanan, Director Indonesia Project Starch & Sweetener Business Unit, JJ Lee, Staf ahli Kadin Jatim, Jamhadi dan Presdir PT Miwon Indonesia, Lim Duk Jin berdialog didepan gedung Unit Bisnis Sweetener PT Mieon Indonesia di Driyorejo, Gresik, Rabu (15/3/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA – PT Miwon Indonesia meresmikan operasional pabrik baru unit usaha corn starch (tepung pati) dan sweetener (bahan pemanis), di Driyorejo, Gresik, Rabu (15/3/2017) .

Dengan investasi sebesar Rp 1,2 triliun itu, pabrik ini langsung melakukan ekspor ke Filipina mulai April 2017.

Puguh Aribowo, Plant Manager PT Miwon Indonesia mengatakan pengiriman pertama ke Filipina mencapai 2.000 ton.

“Tahap kedua, juga akan jumlah yang sama. Di bulan April, ekspor akan mencapai sekitar 4.000 ton untuk produk corn starch,” jelas Puguh, mendampingi JJ Lee, Director Indonesia Project Starch & Sweetener Business Unit dan Lim Duk Jin, President Director PT Miwon Indonesia.

Selain pasar ekspor, pasar lokal ditargetkan sebanyak 6.000 ton pada April 2017.

Produksi mencapai 10.000 ton itu merupakan tahap pertama.

Ditargetkan mulai Mei 2017, produksi bisa mencapai kapasitas pabrik 240 ton per hari untuk corn starch dan 210 ton per hari untuk sweetener.

Bahan baku jagung untuk diolah menjadi dua jenis produk itu mencapai 240 metrik ton per hari.

Factory Director PT Miwon Indonesia, Suratman, menambahkan, pabrik baru itu memiliki luasan 5 hektar.

“Fasilitas sudah modern dengan teknologi mesin produksi dari Korea Selatan, Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sedangkan peralatan pendukung dan sumber daya manusianya berasal dari lokal saja. Kami tidak punya karyawan asing atau pakai Tenaga Kerja Asing (TKA). Kalaupun ada, hanya kurang dari lima orang dan mereka bertugas sebagai transfer technologi,” jelas Suratman.

Sementara terkait bahan baku jagung, President Director Lim Duk Jin, menyebutkan bila pihaknya masih harus impor ke negara lain.

Di antara ke Argentina dan Brasil. “Tapi kedepannya, kami targetkan ambil bahan baku jagung dari lokal saja. Saat ini kami masih melakukan pencarian dan penelitian bahan baku yang sesuai kebutuhan kami,” ungkapnya.

Kebutuhan bahan baku jagung untuk pangan, yang saat ini ditemukan di lokal, masih mengandung air yang belum sesuai ketentuan untuk industri  pangan.

Kemudian mengandung afla toksin yang dikuatirkan menjadi racun pada produk pangan.

“Saat ini kami masih menunggu hasil kajian dari Sucofindo untuk sampel bahan baku jagung dari lokal yang bisa kami manfaatkan sebagai bahan baku. Termasuk menunggu harga yang kompetitif, karena secara umum, harga bahan baku jagung impor masih lebih murah dibanding lokal,” tambah Lim Duk Jin.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved