Sambang Kampung
Kampung Gadukan Surabaya Basis Pembuatan Tas: Ada 60 IKM Tersebar di Tiga RW
Di tengah ketatnya persaingan industri modern, usaha rumahan ini telah berkembang menjadi 60 Industri Kecil dan Menengah (IKM).
Penulis: Bobby Constantine Koloway | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Mempertahankan gelar sebagai sentra pembuat tas terbesar di Surabaya selama hampir empat dasawarsa bukan hal mudah bagi warga di Kampung Gadukan, Morokrembangan, Surabaya.
Di tengah ketatnya persaingan industri modern, usaha rumahan ini telah berkembang menjadi 60 Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang tersebar di tiga RW sekaligus.
Satu di antara perajin tertua di kampung ini, Yugi Sugianto, yang telah memulai usaha sejak 2000 silam.
Sebelumnya, ayah Sugi juga mempunyai usaha serupa yang dirintis sejak 1970-an.
"Ayah saya belajar dari perajin tas asal Tiongkok. Ia kemudian keluar dan membuka usaha sendiri di rumah dan bertahan hingga saat ini," ujar Yugi, saat ditemui di rumahnya di Gadukan Baru no 1, Rabu (8/3/2017).
Untuk mengembangkan usaha ini, diakui Yugi, tidaklah mudah. Bapak dua anak ini bahkan sempat gulung tikar awal dekade 2000-an.
"Kami harus mengulangi lagi usaha dari awal beberapa tahun setelah krisis moneter melanda di 1998," katanya.
Tak hanya Yugi, ada sekitar 60 pengusaha serupa yang juga membuat usaha serupa di kampung yang berada di wilayah Kelurahan Morokrembangan ini.
Produk usaha ini bukan hanya dipasarkan di kalangan penjual di Surabaya saja, namun hingga luar kota dan provinsi.
Khusus Surabaya, Yugi memasarkan di beberapa pusat perbelanjaan. Yakni, Jembatan Merah Plaza (JMP), Darmo Trade Center (DTC), ITC, hingga Pasar Grosir Surabaya (PGS). Tiap minggu, ia bisa mengirim tas hingga 40 lusin.
Untuk membantu usahanya, Yugi mempekerjakan dua karyawan, yang jugatetangganya. Menurutnya, karyawan ini berpotensi jadi wirausaha serupa.
"Saya dulu juga karyawan. Baru kemudian buka usaha sendiri," tutur pria 44 tahun ini.
Ada Pelatihan
Pengusaha lain, Suana Isrowati bersama suaminya, Mansyur, baru membuka usaha pada akhir 2012. Meski tergolong baru, ia telah memperkejakan sekitar 27 karyawan.
"Empat orang kerja di rumah, sedang sisanya dibawa pulang. Namun, nanti dikumpukan lagi di sini," ujar Ana.
Satu di antara karyawan Ana adalah Sholeh. Pria 39 tahun ini berkerja dengan Ana sejak empat tahun silam.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/tas-gadukan-surabaya_20170308_225846.jpg)