Selasa, 7 April 2026

Liputan Khusus Penyebab Wanita Dipenjara

Kasus Trafficking dan Prostitusi Dominasi Kasus Kriminal yang Libatkan Wanita

Dalam lima bulan terakhir, Polrestabes mengungkap kasus trafficking dan prostitusi yang tidak normal.

SURYA.co.id | SURABAYA - Kasus trafficking dan prostitusi masih mendominasi kasus kriminal yang melibatkan perempuan.

Di Polrestabes Surabaya, sepanjang 2016 terdapat 46 perempuan yang menjadi tersangka kasus trafficking dan prostitusi.

Sedangkan, mulai Januari-Maret 2017 sudah terdapat lima perempuan menjadi tersangka trafficking dan prostitusi.

"Motif utamanya cari uang. Karena itu paling gampang dapat uang," kata Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya AKBP Shinto Silitonga.

Tetapi, kata Shinto, belakangan motif pelaku kasus trafficking dan prostitusi bukan hanya soal uang.

Ada pergeseran motif dari uang ke soal fantasi seks. Dalam lima bulan terakhir, Polrestabes mengungkap kasus trafficking dan prostitusi yang tidak normal.

Pelaku menawarkan beberapa jasa layanan seks secara ramai-ramai.

Misalnya layanan seks threesome (satu laki-laki dua perempuan dan sebaliknya), layanan seks ramai-ramai satu perempuan dengan tiga laki-laki atau biasa disebut gangbang, dan layanan seks tukar pasangan atau swinger.

"Kami mulai mengungkap kasus itu Oktober 2016. Itu termasuk fenomena baru dalam kasus trafficking dan prostitusi yang kami ungkap," ujarnya.

Mulai Oktober-Desember 2016 ada empat kasus trafficking dan prostitusi yang melayani seks ramai-ramai diungkap Polrestabes. Sedang Januari-Maret 2017 sudah ada enam kasus yang dibongkar.

Dari sejumlah kasus itu ada yang pelakunya pasangan suami istri. Untuk memenuhi fantasi seks, mereka menawarkan layanan seks ramai-ramai.

Mulai swinger, gangbang, dan threesome. Mereka tidak mengejar uang tapi lebih pada pemenuhan fantasi seks.

"Mereka menawarkan diri di grup-grup media sosial Facebook. Mereka tidak dibayar tidak apa-apa asalkan kebutuhan fantasi seksualnya terpenuhi," ujar Shinto.

Ia menambahkan fenomena layanan seks ramai-ramai itu juga dipengaruhi permintaan konsumen.
Beberapa konsumen mencari jasa layanan seks ramai-ramai di grup Facebook.

Mau tidak mau para wanita pekerja seks harus mengikuti permintaan konsumen agar tetap dapat uang.

Sumber: Surya Cetak
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved