Berita Banyuwangi
Mengintip Desa Ketapang di Banyuwangi yang Sukses Kembangkan BUMDes
Desa Ketapang di Kabupaten Banyuwangi ini adalah salah satu contoh desa sukses di nusantara. Mau lihat seperti apa? Baca di sini sampai tuntas...
Penulis: Haorrahman | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | BANYUWANGI -Desa Ketapang merupakan salah satu desa terluas di Banyuwangi. Dengan luas 3.767 hektare, desa ini memiliki penduduk sebanyak 25.400 jiwa.
Dengan kondisi geografis seperti itu, Desa Ketapang harus berinovasi agar bisa mandiri. Dengan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), kini Desa Ketapang menjadi desa mandiri dengan pendapatan rata-rata sekitar Rp 14 juta Perbulan.
Adalah Slamet Kasihono Kepala Desa Ketapang yang sukses membangun BUMDes Citra Mandiri.
Menurut Kepala desa yang menjabat sejak 2013 itu, BUMDes mampu meraih pendapatan desa (PADdes) sebesar Rp 80-100 juta per tahun.
Aset BUMDes Citra Mandiri saat ini mencapai Rp 200 juta, dan kini terdapat 25 pegawai
"Sekarang BUMDes bisa menyumbang PADes (Pendapatan Asli Desa)," kata Slamet.
Terdapat banyak bidang usaha di Citra Mandiri, yang menghasilkan laba bersih tiap bulan.
Seperti koperasi (toserba) dengan laba bersih Rp 3 juta, simpan pinjam Rp 1,5 juta HIPPAM Rp 2,5 juta, fotokopi Rp 700.000, PPOB Rp 650.000, Kantin Rp 300.000, sampah Rp 2,4 juta, pasar Rp 3,1 juta, dan usaha lainnya yang kini tengah dikembangkan.
"Kami awalnya koperasi, dan kini berkembang menjadi BUMDes," kata Slamet.
Dalam menjalankan usahanya, Citra Mandiri berinovasi dengan memberikan kemudahan pada warganya melalui sistem pembayaran on call, dengan diantar ke rumah warga.
"Misalnya seperti tagihan listrik dan air, kami cetak dulu print out-nya lalu diantar ke rumah warga. Ada juga yang melalui Ketua RT setempat dan kelompok," kata Slamet.
Citra Mandiri juga bekerja sama dengan Bulog, untuk menjual kebutuhan bahan pokok, seperti beras, gula, minyak goreng, dan lainnya dengan harga di bawah pasar.
Butuh inovasi, kesabaran, dan kerja keras untuk bisa membangun BUMDes. Bahkan Slamet menceritakan, di awal dia menjabat sebagai Kepala Desa, sempat menjual mobil pribadinya Toyota Avanza untuk membayar utang gaji karyawan dan membangun BUMDes.
"Dulu karyawan saya sempat enam bulan tidak gajian. Dan itu saya anggap utang pada mereka," kata kepala desa kelahiran Banyuwangi 12 Januari 1972 itu.
Saat itu, meski tidak gajian, Slamet mengusahakan agar kebutuhan pokok 17 pegawainya bisa terpenuhi. Slamet tetap mengupayakan mereka mendapat beras, agar bisa dibawa pulang.
