Jumat, 10 April 2026

Kuliner

Ini Dia Cerita Tersembunyi di Balik Gurih dan Lezatnya Kue Lemper

Zaman dulu harga daging sapi mahal, sehingga isi lemper terbuat dari kelapa muda yang dimasak layaknya srundeng.

intisari online
Ilustrasi kue lemper 

SURYA.co.id - Kue lemper menjadi salah satu hidangan yang sering diberikan saat ada acara hajatan.

Namun siapa sangka, di balik bentuknya yang 'sederhana' itu, lemper ternyata memiliki beragam cerita dan nilai filosofis.

Ya, kue yang satu ini terbuat dari beras ketan yang dikukus lalu diisi daging dan dibungkus menggunakan daun pisang.

Bagi masyarakat Jawa, lemper memiliki nilai filosofis sebagai simbol persaudaraan.

Ini muncul dari sifat ketan yang lengket mencerminkan persaudaraan antar individu manusia yang saling menyatu.

Dalam acara hajatan, entitas lemper menunjukkan harapan akan datangnya rejeki.

Lagi-lagi karena sifat ketan yang lengket, orang yang memiliki hajatan berharap akan datangnya rejeki yang akan menempel selama menggelar acara tersebut.

Lemper juga hadir dalam upacara adat Rebo Pungkasan di daerah Wonokromo, Kecamatan Pleret, Bantul.

Uniknya, upacara adat yang digelar tiap hari terakhir dalam bulan Suro ini, menghadirkan lemper dengan ukuran raksasa berukuran 2 x 2,5 m.

Lemper raksasa ini berisi ribuan lemper kecil yang dikirab sejauh 1 kilometer.

Setelah sampai di tujuan, kulit lemper yang terbuat dari kepang (alas menjemur padi) dan dilapisi daun pisang dibuka.

Lantas ribuan lemper kecil di dalamnya dibagikan secara gratis pada pengunjung.

Lemper dalam upacara ini ibarat manusia. Jika ingin hidup di surga harus membuang dulu dosa-dosanya (kulit daun pisang) hingga nanti dapat menuju inti hidup (isi lemper) dari manusia.

Namun tak banyak orang tahu, awalnya isi lemper bukanlah daging sapi atau ayam.

Mulanya, lemper berisi daging kelapa muda yang disebut gebingan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved