Berita Pendidikan Surabaya

Pendirian SMK Mini Distop, Ini Rencana Dinas Pendidikan Jatim

Dinas Pendidikan Jawa Timur akan menghentikan sementara pendirian SMK Mini. Sebagai gantinya, mereka akan melakukan strategi ini.

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
surya/galih lintartika
Siswa SMK Mini Jawahirul Ulum, Jabon, Sidoarjo, berlatih menjahit. Mesin jahit yang mereka gunakan berasal dari dana hibah RP 250 juta dari Dinas Pendidikan Pemprov Jatim. 

SURYA.co.id| SURABAYA - Rencana Dinas Pendidikan (Dindik) Jawa Timur untuk memberhentikan sementara pendirian SMK mini dirasa cukup efektif.

Ketua Dewan Pendidikan Provinsi Jawa Timur, Prof Akhmad Muzakki menilai langkah pengalihan dana pendirian SMK Mini ini merupakan wujud prioritas Dindik Provinsi setelah adanya UU no 23 tahun 2015.

Meski demikian, dia menganggap bahwa SMK mini yang sudah ada harus tetap dipantau karena program tersebut cukup efektif dalam meningkatkan kompetensi siswa di pesantren.

“SMK mini memang sudah 3 tahun berjalan. Ini upaya provinsi memberikan pendidikan pada anak pesantren,” ungkapnya ketika dikonfirmasi SURYA.co.id, Sabtu (14/1/2016).

“Kalau bisa SMK mini masih ada, tetapi pendanaannya tidak murni dari Pemprov. Dunia usaha bisa diajak kerjasama,” lanjutnya.

Kepala Dindik Jatim, Saiful Rachman mengatakan bahwa memang benar ada penghentian pendirian SMK mini. Namun sebagai gantinya, SMK mini yang sudah berdiri diminta merekruit sasaran baru.

Targetnya, dari 262 SMK mini yang sudah eksis selama satu tahun ini dapat melatih sebanyak 52.400 siswa di pondok pesantren.

“Kami ubah programnya menjadi penambahan siswa. Sehingga target 100 ribu tenaga kerja terampil akan bisa tercapai tahun ini,” jelasnya .

Anggaran yang telah disiapkan untuk penambahan jumlah sasaran ini mencapai Rp25 miliar. Anggaran tersebut diberikan dalam bentuk BOS (Bantuan Operasional Sekolah) daerah SMK Mini.

Dengan nomenklatur itu, maka bantuan akan dihitung per peserta didik yang berhasil direkruit SMK Mini.

“Hitungannya per siswa, tapi pencairannya tetap diserahkan langsung ke lembaga,” ungkapnya.

Melalui Bosda SMK Mini, anggaran yang dikucurkan otomatis akan lebih efisien. Sebab, dengan total anggaran yang sama, SMK Mini hanya menghasilkan 20 ribu lulusan tenaga terampil.

Rinciannya, 100 lembaga SMK Mini masing-masing mendapat kucuran dana sebesar Rp 250 juta. Setiap lembaga, total peserta didik yang dilatih hanya sebesar 200 siswa.

“Tahun ini setiap lembaga diperkirakan akan mendapat sekitar Rp 100 juta. Ini bukan karena anggaran minim, karena dengan tahun lalu anggarannya juga sama,” terang Saiful.

Lebih lanjut, SMK Mini yang sudah berdiri saat ini telah memiliki peralatan. Karena itu, anggaran yang ada akan dimaksimalkan untuk honor trainer dan bahan habis pakai untuk praktikum.

Program keahlian yang dilatih dalam SMK Mini, lanjutnya, tidak ada perubahan dengan tahun lalu. Tetap sembilan paket keahlian, yakni teknologi dan rekayasa, teknologi informasi dan komunikasi, kesehatan, agrobisnis dan agroteknologi, perikanan dan kelautan, bisnis dan managemen, pariwisatan, seni rupa dan kriya serta seni pertunjukan.

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved