Citizen Reporter

Serunya Berbagi Gagasan dengan Han Gagas

pernah gagal menulis cerita? ah, mungkin kau lupa menuangkan imajinasi ke dalam ceritamu... coba saja gagasan Han Gagas ini ...

english/pixabay
ilustrasi 

Reportase : Suci Ayu Latifah
Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo

STKIP PGRI Ponorogo membuka Sekolah Literasi Gratis (SGL), Minggu (19/10/2016) dengan mendatangkan pemateri, cerpenis Han Gagas.

Penulis kelahiran Ponorogo yang akrab disapa Han itu membagikan jurus membangun cerita dengan imajinasi sebagai pondasinya. Seperti halnya rumah yang kokoh karena pondasi dan tiang.

Begitupula dengan cerita, utamanya cerpen atau novel, akan menjadi cerita yang hidup dan kuat apabila dibubuhi imajinasi.

Penulis novel Tembang Tolak Bala itu menambahkan, betapa imajinasi itu penting karena pengalaman seseorang terbatas. Khususnya penulis pemula yang harus pandai-pandai berimajinasi ketika membuat tulisan, entah itu cerpen, novel, maupun puisi.

Imajinasi itu luas, ujar Han Gagas. Artinya, ketika berimajinasi seseorang dapat memerlakukan dunia nyata sebagai dunia terakhir setelah dunia imajinasi. Imajinasi membuat seseorang merasa bahagia karena telah berpetualang dan merasa mengetahui semua kehidupan.

Kendati, orang sering gagal ketika menuangkan imajinasi dalam karyanya. Han Gagas menyebut kegagalan imajinasi di antaranya karena penulis kekurangan pembendaharaan kata, kurang kekayaan membaca, kurang research, dan pola pikir kurang asosiatif.

Tak hanya imajinasi, pemilihan kata atau diksi juga penting dalam membangun cerita. Ada sejumlah kriteria memilih diksi yang menarik untuk berkomunikasi dengan pembaca, di antaranya, diksi itu padat seperti donat, tidak terjadi pengulangan, ringkas, cermat, dan mewakili apa yang diungkapkan penulis melalui panca indranya (penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, perasa).

Di ujung sesi, Han yang mengaku pernah menanam susuk dan menuangkannya dalam cerpen Susuk Kekebalan itu berpesan kepada penulis pemula Ponorogo untuk terus menulis karena menulis dapat di mulai dari hal sederhana, misal menulis buku harian atau surat.

“Menulis merupakan ajang menyalurkan emosi,” pungkas Han Gagas.

Sumber: Surya Cetak
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved