Reportase dari Mesir
Kuliner Asli Mesir : Tiada Hari tanpa Seporsi Isy
orang Indonesia merasa belum makan bila belum menyantap nasi.. pun orang Mesir, serasa belum makan bila belum mengudap isy, kendati ada nasi..
Reportase : Nanang Syaiful Rohman
Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Malang/bertugas di Pusat Kebudayaan Informasi Indonesia di Kairo dan Pusat Studi Indonesia Ismailia Mesir melalui PPSDK
SETIAP negara pasti memiliki makanan yang berbeda-beda. Hal ini berkaitan erat dengan bahan mentah yang menjadi dasar dari makanan tersebut dan kebudayaan yang membangunnya.
Kebiasaan sebuah masyarakat untuk mengonsumsinya, menjadikan sebuah makanan menjadi makanan pokok keseharian. Lain Indonesia, lain juga dengan Mesir. Kalau di Indonesia memiliki nasi sebagai makanan pokok setiap harinya, di Mesir makanan pokok sehari-hari yang mereka santap adalah isy.
Isy, merupakan roti berbentuk bulat yang terbuat dari gandum. Rasanya seperti roti tawar hanya lebih padat dan seratnya lebih terasa. Biasanya isy dimakan dengan lauk ayam panggang, daging kambing, atau pun ikan. Ada juga isy yang bagian tengahnya bisa diisi.
Biasanya orang Mesir mengisinya dengan kentang goreng, terong goreng, ataupun saus kacang yang digiling. Harganya pun relatif murah. Untuk bisa mencicipi isy cukup mengeluarkan 1 LE (Rp 1.500) sudah bisa mendapatkan lima keping roti isy yang memiliki diameter sekitar 15 cm.
Banyak makanan Mesir yang menggunakan isy sebagai dasar makanan, seperti tho’miyah bil beid semacam isian saus dari gilingan kacang ditambah telur. Ada juga salata zabadi, yakni keju olahan sebagai isian isy. Atau, salata baba ghonnu yang yak lain adalah terong bakar yang dihaluskan, dan makanan paling fenomenal menurut mahasiswa Indonesia di Mesir, foul.
Foul ini terdiri dari kacang fava, yang disajikan bersama minyak zaitun, bawang putih, dan perasan jeruk lemon. Semua jenis makanan ini kemudian dimasukkan ke dalam rongga isy. Makanan-makanan ini biasanya disajikan dengan sayur-sayuran, acar, dan saus tomat.
Ketika saya berangkat mengajar, saya selalu melewati sebuah pasar. Di sana saya sering tidak berkedip ketika melihat tempat pembuatan dan penjualan isy. Saya sering mengamati pembuatannya. Biasanya setelah dioven sekitar satu menit, isy akan dikeluarkan dan ditata di rak depan toko.
Saat baru dikeluarkan isy akan mengembang gemuk seperti balon kecil karena udara panas di dalamnya setelah kelura dari oven. Kalau didiamkan lama-lama akan mengempes dan mengeras. Oleh karena itu paling sedap jika isy dinikmati saat masih hangat karena baunya harum dan sungguh menggugah selera.
Orang Mesir, biasanya bisa menghabiskan tiga hingga empat potong isy. Meski juga ada nasi, isy pun masih tetap dihidangkan. Saya juga sering memerhatikan banyak laki-laki yang makan isy dengan minum shay atau teh sembari menghisap shisa.
Tertarik mencobanya?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/isy-roti-mesir_20161021_175856.jpg)