Kejahatan Dimas Kanjeng
Pengikut Dimas Kanjeng Asal Pasuruan Malu Dijemput Pakai Bus, Nekat Bertahan
"Kalau tidak ada perintah, saya tetap di padepokan. Apapun itu, pokoknya saya dan teman - teman Pasuruan akan tetap di padepokan," katanya kepada Sury
Penulis: Galih Lintartika | Editor: Yoni
"Saya juga masih belum tahu. Yang jelas, Bunda Marwah bilang menunggu urusan Yang mulia Dimas Kanjeng selesai," jawabnya.
Kepada Surya, Nizar mengaku tidak berani memutuskan untuk melangkah sebelum ada perintah dari Ketua Yayasan.
Ia beralasan, bahwa perintah dari yayasan itu wajib dilaksanakan.
"Kalau tidak ada perintah, saya tetap di padepokan. Apapun itu, pokoknya saya dan teman - teman Pasuruan akan tetap di padepokan," katanya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dia menjelaskan, selama ini, ia tidak pernah menetap dan tinggal di padepokan dalam jangka waktu yang lama.
Ia mengaku seringkali pulang - pergi rumahnya ke padepokan. Alasannya karena memang jarak tempuhnya itu tidak terlalu jauh.
"Sistemnya untuk warga Pasuruan yang di padepokan itu pulang - pergi dan piketan. Semisal dalam seminggu, saya hanya kebagian tiga hari ya tiga hari. Sisanya saya di rumah saja," terangnya.
Pria asal Kraton, Pasuruan ini menjelaskan, piketan itu dilakukan untuk tetap mengisi tenda warga Pasuruan tetap ada yang menjaga.
Selain itu, masing - masing pengikut memiliki pekerjaan dan kesibukan lainnya.
"Ya kan kami tidak bisa selalu standby di sini. Kebetulan saya itu petani, makanya harus mengecek kondisi sawah," paparnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Dia mengungkapkan, kegiatannya selama di padepokan itu hanya berdzikir dan istighosah. Kegiatan itu dilakukannya hampir setiap hari.
"Kami disini itu hanya mengaji saja , tidak ada kegiatan lainnya. Saya berniat bergabung dengan padepokan ini hanya untuk memperdalam ilmu saja," tandasnya.
Pengikut asal Pasuruan lainnya, mengaku malu jika harus dijemput dan dibawa pulang menggunakan bus. Ia tidak ingin dilihat oleh tetangganya bahwa pernah bergabung dengan padepokan ini.
"Saya malu dong kalau harus pulang naik bus. Saya bisa kok pulang sendiri tanpa dijemput," kata pengikut yang namanya menolak dikorankan ini kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
Pengikut itu mengungkapkan hal yang sama. Ia menyebut bahwa selama ini tidak pernah bertahan lama di padepokan. Satu minggu datang dua sampai tiga hari, setelah itu pulang ke rumah.
"Sistemnya gantian kayak gitu, bagi saya hal itu tidak masalah. Toh, saya juga niatnya itu mengaji dan belajar agama. Saya bisa kok pulang sendiri tanpa diminta," imbuhnya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).
