Reportase dari Mesir
Wow Bahasa Indonesia Paling Diincar Mahasiswa Mesir
ternyata mahasiswa dan warga Mesir paling mengincar bahasa Indonesia sebagai mata pelajaran menarik... prodi tentang Indonesia pun tengah digagas...
Reportase : Nanang Syaiful Rohman
Pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing di Universitas Negeri Malang/sedang bertugas di Pusat Kebudayaan Informasi Indonesia Kairo dan Pusat Studi Indonesia Ismailia Mesir
DUTA Besar RI di Kairo, Helmy Fauzy membuka kelas baru pembelajaran bahasa Indonesia periode ketiga tahun ajaran 2016, Minggu (4/9/2016), di Pusat Studi Indonesia (PSI) Suez Canal University (SCU) di Ismailia, Mesir.
Hadir Atdikbud KBRI Kairo, Usman Shihab, Wakil Rektor SCU, Prof Dr Atif Abo el Nour, Dekan Fakultas Sastra dan ilmu-ilmu humaniora Adel Assaadani, Direktur PSI, Hassan Yussif, dan para pengajar kursus bahasa Indonesia.
Dubes RI mengucapkan selamat dan terima kasih kepada para calon peserta yang akan mengikuti pembelajaran selama 3 bulan di PSI Ismailia.
KBRI dan SCU bekerjasama membuka kelas bahasa Indonesia sejak 2005. Baru tahun 2012, PSI di SCU resmi dibuka. Program pertama adalah pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia bagi mahasiswa dan masyarakat Mesir.
Program ini menjadi salah satu jalan bagi mahasiswa mendapat beasiswa studi ke Indonesia melalui program darmasiswa dan beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB).
Selain pembelajaran bahasa dan budaya Indonesia, SCU juga mengadakan sarasehan tentang Indonesia, mencakup sosial, budaya, pendidikan, dan pariwisata, rutin setiap bulan.
SCU adan Atdikbud sedang berupaya meningkatkan program pembelajaran bahasa Indonesia menjadi Program Studi Indonesia. Jadi, selain belajar bahasa Indonesia, mahasiswa juga bisa mangampu mata kuliah tentang Indonesia.
Menurut Atdikbud KBRI, Usman Shihab, sejarah panjang hubungan Indonesia dan Mesir berdampak positif terhadap minat masyarakat Mesir memelajari bahasa Indonesia.
Selain PSI di SCU, pemerintah melalui KBRI berusaha membuka pusat-pusat studi Indonesia lainnya. Nantinya pusat-pusat Indonesia ini, diharapkan dapat membantu keinginan masyarakat Mesir untuk memelajari bahasa dan budaya Indonesia.
Kewalahan
Jumlah peserta yang begitu banyak membuat penyelenggara kewalahan, terutama bagian fasilitas dan kapasitas belajar mengajar.
Maklum, di universitas ini hanya memiliki dua pengajar dengan jumlah peserta setiap angkatan mencapai 80-an.
Itu sebabnya Dubes RI dan Atdikbud RI Kairo menyambut hangat pengiriman empat pengajar bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) ke Mesir oleh pemerintah Indonesia melalui Pusat Pengembangan Strategi Diplomasi Kebahasaan (PPSDK).
Nantinya keempat pengajar ini termasuk penulis akan membantu mengajar di PSI, SCU Ismailia dan Pusat Informasi Kebudayaan Indonesia yang sudah membuka program ini satu bulan sebelumnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/pusat-studi-indonesia-di-mesir_20160911_122552.jpg)