Selasa, 14 April 2026

Berita Sidoarjo

Lapindo Miliki 20 Sumur, Sekarang Tinggal 4 Sumur, Ini Kapasitas Produksinya

Lapindo Brantas miliki 20 sumur eksplorasi di Sidoarjo. Dari jumlah itu hanya 4 yang masih bisa berproduksi. Ini sebabnya

Penulis: Irwan Syairwan | Editor: Adrianus Adhi
antara/umarul faruq
Alat berat melakukan peninggian dan penguatan tanggul di titik 42 Desa Renokenongo, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, Jumat (12/6/2015). 

SURYA.co.id I SIDOARJO -  Sumur gas bumi Tanggulangin (TA) 1 bukan yang satu-satunya dimiliki Lapindo Brantas Inc (LBI).

Selama mengeksplorasi Blok Brantas, setidaknya LBI memiliki 20 sumur gas, terutama di Sidoarjo. Lokasi 20 sumur tersebut di antaranya di Desa Wunut, Porong. Hanya saja, hampir semua sumur di Porong sudah tidak beroperasi karena cadangan gas sudah habis.

LBI juga sempat memiliki sumur minyak bumi di wilayah Tanggulangin, namun sumur tersebut langsung habis setelah dieksplorasi beberapa bulan.

Saat ini, LBI tinggal memiliki empat sumur di Desa Kalidawir, Tanggulangin, yang menjadi penyokong utama. Empat sumur ini memproduksi 4 juta kaki kubik perhari.

Public Relation (PR) Officer LBI, Ari Soesanto, mengatakan rencana pengeboran sumur TA 1 ini akan menjadi produksi yang terbesar.

Satu sumur ini memiliki kapasitas produksi setara dengan empat sumur yang telah ada. "TA1 ini jadi sumur utama," kata Ari kepada awak media.

Dijelaskan, sumur TA ini diharapkan menjadi andalan LBI untuk memenuhi target 10 juta meter kaki kubik perhari yang dibebankan SKK Migas kepada LBI. Eksplorasi sumur TA 1 ini, lanjutnya, merupakan instruksi SKK Migas pusat.

"Kami melakukan DSP ini bukan tanpa dasar. SKK Migas yang memberi instruksi tersebut," sambungnya.

PR Manager LBI, Arie Widodo, menambahkan seharusnya sumur TA 1 ini sudah beroperasi sejak 2012, namun karena aspek sosial, eksplorasinya terhambat. Bahkan, SKK Migas meminta proses DSP tersebut diselesaikan pada Desember 2015 lalu.

"Mundur empat tahun karena kami terus sosialisasi ke warga. Awalnya sulit, karena warga sangat resisten. Tapi dibantu oleh Pj Bupati, Kapolres, dan Dandim, perlahan warga mulai terbuka, hingga kami lakukan DSP itu," paparnya.

Widodo mengungkapkan kapasitas produksi sumur TA 1 mencapai 4-5 juta meter kaki kubik perhari. Sementara, umur produksinya bisa mencapai 20 tahun.

"Itu untuk memenuhi kebutuhan program Gas Nasional BP-Migas atau program City Gas dan Gas Desa," ujarnya.

Empat sumur TA yang telah beroperasi ini, lanjutnya, dipakai untuk menyuplai 3.000 jaringan gas (jargas) 3.000 rumah di Surabaya dan sebagian Sidoarjo. Jika sumur TA 1 beroperasi, setidaknya akan ada tambahan 3.000 - 4.000 jargas rumah tangga baru yang akan dialiri gas bumi tersebut.

Widodo menyatakan sumur migas di kawasan Kedungbanteng (TA 1) ini, tidak ada hubungannya dengan sumur di Banjar Panji (BP) I yang sampai kini mengeluarkan semburan lumpur, sebab selain kedalamannya tidak sama (antara sumur di TA 1 dengan BP I), secara geologis tidak saling terkoneksi meski jarak bedekatan, 2,5 km.

"Dua lokasi sumur itu juga sangat berbeda. Sumur di TA 1 memiliki kedalam 1.100 meter, sedang sumur BP I dalamnya 3.100 meter," bebernya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved