Kamis, 16 April 2026

KM Wihan Sejahtera Tenggelam

Bu Murti Ikat 2 Anak Kecilnya di Pelampung, Lalu Terjun ke Laut

#SURABAYA - Ibu dan dua anaknya yang masih kecil ini berjuang di antara ratusan orang yang berebut menyelamatkan diri.

Penulis: Nuraini Faiq | Editor: Yuli
basarnas/polair
Petugas mengevakuasi penumpang KM Wihan Sejahtera yang berhasil meloncat dari kapal saat kapal tenggelam, Senin (16/11/2015) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Bruakkk....!!!! Suara benturan sangat keras itu mengguncangkan seluruh isi dan muatan kapal.

Suara teriakan minta tolong dan takbir bersautan di dalam kapal. Situasi ini makin membuat panik di lantai tiga dan empat KM Wihan Sejahtera di Teluk Lamong, Gresik, 16 November 2015.

Di lantai itulah, semua penumpang akan diangkut menuju Ende, Flores Nusa Tenggara Timur.

Sesaat setelah terjadi guncangan hebat, tiba-tiba kapal dengan ratusan penumpang ini dalam posisi miring. Sementara dari lantai di bawahnya, suara mobil dan truk saling tindih.

Kondisi tersebut makin membuat panik seluruh penumpang. Seluruh penumpang beteriak dan berlarian ingin keluar. Semua pintu kapal diserbu ratusan penumpang. Mereka saling berebut keluar.

"Saat itu posisi kapal sudah miring. Saya tak tahu apa yang terjadi. Tapi saya dengar ada suara keras dan kemudian kapal seperti kena gempa. Begitu keluar, saya terjun begitu saja di laut sambil menyahut pelampung," kata Indri, salah satu korban yang luka parah di bagian tangan.

Penumpang asal Ende, Flores ini hendak pulang ke kampungnya setelah 7 tahun bekerja di Surabaya. Namun dirinya gagal membahagiakan keluarga karena kapal yang ditumpanginya terempas di perairan Teluk Lamong.

Padahal dia sudah senang karena seminggu lalu tiket kapal Rp 460.000 sudah di tangan.

Dia ingin tahun ini bisa merayakan Natal dan Tahun Baru di kampung halaman. Indri memilih pulang dini karena saat menjelang Natal nanti biaya tiket bisa dua kali lipat.

Indri tak sadarkan diri saat dirinya dievakuasi sampai di RS PHC. Perempuan ini mengaku sadar sudah telalu banyak minum air asin.

Dia masih trauma saat melihat kepanikan ratusan orang saling berebut keluar. Namun sesampai di luar, orang masih terus berebut pelampung.

Satu per satu, penumpang tidak saja laki maupun perempuan saling menyelamatkan diri. Kebanyakan turun dengan kenekatannya sendiri.

Ada yang memanfaatkan tali untuk bergelantungan. Ada pula yang langsung terjun bebas dari ketinggian kurang lebuh 20 meter.

Di antara penumpang yang berjuang keras menyelamatkan diri adalah ibu dan dua anaknya.

Murti (42), Teresia Nadila (11), dan Radit Rato (6) asal Kelurahan Danga, Kecamatan Aesesa, Kota Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved