Topeng Malangan
Pentas Topeng Malangan Sajikan Intrik Politik Zaman Jenggala
Seperti zaman sekarang, cerita Umbul-umbul Mojopuro ini juga sebuah transisi politik yang banyak intrik politik di dalamnya.
Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Kesenian tari topeng asal Kabupaten Malang ternyata masih banyak peminatnya. Salah satunya terlihat saat pementasan tari topeng Malang di Pendapa Taman Budaya Jawa Timur, Surabaya, Sabtu (8/8/2015) malam.
Menurut seniman Topeng Malangan, Suroso, di Malang juga masih banyak yang ingin belajar seni topeng ini. "Mulai membuat topeng hingga tari topeng," katanya di sela pentas di Taman Budaya.
Mereka yang lagi menggeluti topeng Malangan ini bukan hanya orang dewasa tapi juga anak-anak dan remaja.
"Dulu pada awalnya saya juga membuat topeng terus ikut menari dan sekarang juga bisa menjadi sutradara," kata Suroso yang berperan sebagai Semar.
Menurutnya, tari topeng adalah kesenian bangsawan zaman Majapahit. Topeng untuk menggambarkan secara simbolis karakter dalam peran yang dimainkan.
Pada kesenian tari topeng ini ada tiga jenis pemain, yakni wayang, karena pemainnya menggunakan kostum wayang, topeng karena menggunakan topeng dan dalang yakni pelakunya.
Bagi Suroso, tari topeng ini sudah turun temurun empat generasi. Seperti kesenian tradisional lainnya, sebelum memainkan peran tari topeng selalu didahului dengan ritual.
"Ada doa sebelum main, meminta kepada Tuhan, memberitahu kepada leluhur
Saat tampil di Surabaya, Suroso bersama rekannya dari Pakisaji, Malang memainkan lakon Umbul-umbul Mojopuro.
Ceritanya mengenai transisi kepemimpinan pada masa Kerajaan Jenggala.
"Seperti zaman sekarang, cerita Umbul-umbul Mojopuro ini juga sebuah transisi politik yang banyak intrik politik di dalamnya," pungkas Suroso.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/wayang-topeng-malang_20150809_212726.jpg)