Selasa, 7 April 2026

Tempo Doeloe

Peter Carey seperti Kerasukan Saat Teliti Pangeran Dipanagara

Selama lebih dari 40 tahun dalam hidupnya, Peter Brian Ramsey Carey, sejarawan asal Inggris bergelut dengan masyarakat Jawa.

Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Yuli
wiwit purwanto
Peter Carey, sejarawan asal Inggris yang mendalami sepak terjang Pangeran Diponegoro atau Dipanagara saat di kantor Harian SURYA, Kamis (30/7/2015). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Selama lebih dari 40 tahun dalam hidupnya, Peter Brian Ramsey Carey, sejarawan asal Inggris bergelut dengan masyarakat Jawa.

Ia mendedikasikan dirinya meneliti sejarah perang Jawa (1825-1930), termasuk detil dari kehidupan Pangeran Dipanagara atau Diponegoro.

Carey yang kebetulan berkunjung dalam rangkaian sebagai narasumber pada seminar tentang sejarah Pangeran Diponegoro di STKIP PGRI Sidoarjo, Jumat (31/07/2015) menyempatkan diri berkunjung ke kantor redaksi Harian Surya, Kamis (30/07/2015).

Pria yang kini berusia 67 tahun ini masih terlihat sehat dan bersemangat ketika bercerita tentang sejarah perang Jawa.

Ia mengawali penelitian perang Jawa khususnya terkait Pangeran Diponegoro pada tahun 1970. “Saya datang pertama kali ke Yogyakarta Tahun 1970, di Stasiun Tugu,” kenang Carey.

Bukan tidak sengaja ia datang ke Yogyakarta untuk memulai penelitian, tapi ketertarikannya untuk mengangkat penelitian perang Jawa yang didalamnya terdapat kisah heroik perjuangan Pangeran Diponegoro berawal dari sebuah tugas yang harus ia kerjakan saat duduk di bangku kuliah. Tugas tersebut menjadi syarat mendapat beasiswa untuk penelitian.

Sebelumnya Carey berencana membuat penelitian tentang Revolusi Perancis, namun ia berpikir penelitian tentang Revolusi Prancis sudah banyak dilakukan oleh peneliti lainnya. “Saat itulah guru saya bilang kenapa kamu tidak membuat penelitian tentang perang Jawa,” katanya.

Selama tiga tahun (1970 – 1973 ) Carey berada di Yogyakarta untuk mengumpulkan bahan dan memulai penelitian tentang Pangeran Diponegoro. Banyak pengalaman yang membuat logikanya sempat tak terima namun itulah kenyataan. Ketika pertama kali sampai di Yogyakarta dan menuju sebuah losmen yang murah, tiba tiba ia didatangi oleh seorang temannya dari Jakarta.

Oleh temannya ini seakan ia dituntun untuk menuju sebuah padepokan kecil di Gunung Kidul.”Saya diajak untuk melihat pertunjukkan wayang orang,” kenangnya. Ternyat tanpa sepengetahuannya, pertunjukkan wayang orang ini berada di rumah Pangeran Diponegoro di Tegal Harho. “Seakan saya ini diajak sowan, begitulah adanya,” kata Carey tersenyum.

Banyak pengalaman yang tiba tiba saja terjadi dan tak masuk akal ketika awal awal berada di Yogyakarta, seperti kamera hilang, loteng tiba tiba bocor, lambung sakit dan motor tiba tiba dipinjam orang. Banyak peristiwa aneh yang menimpanya membuat Carey atas saran temannya akhirnya meminta bantuan “orang pintar”.

Atas saran orang pintar itu, Carey diminta mencari daun limau, menggelar selamatan dan meyakinkan niat baik untuk melakukan penelitian terhadap Pangeran Diponegoro. Begitu kuat dan bersemangatnya carey melakukan penelitian, hingga kelar beberapa bukunya yang antara lain berjudul Babad Diponegoro (1981), Diponegoro, Kuasa Ramalan (2007) dan Takdir, kehidupan Pangeran Diponegoro dari Yogyakarta (2014).

Bagi Carey yang kini juga menjadi Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia mendalami sosok Pangeran Diponegoro seakan bukan hanya melihat tampak luar dari sepak terjangnya, secara spiritual Carey seakan juga kerasukan Pangeran Diponegro. Dalam buka Takdir , disitu ia menceritakan bagaimana ketika Pangeran Diponegoro berdialog melakukan negosiasi dengan pemerintah Belanda.

Dalam pandangan Carey, suatu bangsa yang melupakan sejarahnya sendiri maka sangat berbahaya. Hidup di alam modern, menurut Carey, tak berarti lupa memaknai warisan leluhur.

Hanya saja untuk saat ini pemahaman dan pemaknaan sejarah itu kadang membuat malas anak anak jaman sekarang.

Menurut Carey, untuk bisa membuat anak anak muda sekarang suka dengan sejarah adalah membawa sejarah itu kepada kehidupan sekarang. “Misalnya kalau dengan membaca buka sejarah seperti malas, kan bisa melalui secara online, tentu lebih menyenangkan,” ujarnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved