Selasa, 28 April 2026

Pendidikan di Surabaya

Guru SMAN di Surabaya Minta Diadakan Lagi Mutasi Tanpa Diskriminasi

#SURABAYA - Mutasi atau rotasi guru oleh Dinas Pendidikan (Dindik) Surabaya untuk guru SDN, SMPN, SMAN dan SMKN ternyata belum menyelesaikan masalah.

Penulis: Sany Eka Putri | Editor: Yuli

SURYA.co.id | SURABAYA - Mutasi atau rotasi guru oleh Dinas Pendidikan Surabaya untuk guru SDN, SMPN, SMAN dan SMKN ternyata masih belum menyelesaikan masalah di dunia pendidikan Surabaya.

Hal ini terbukti dengan datangnya beberapa guru dari SMAN Surabaya ke Dindik Surabaya. Kedatangan mereka untuk menuntut supaya Dindik kembali menghidupkan mutasi secara adil dan tanpa diskriminasi.

Salah satu perwakilan guru, Mochammad Najikh, meminta rotasi yang dirasanya dihentikan pada tahun 2014-2015 itu agar dijalankan kembali.

"Kami meminta kepada Kepala Dinas untuk menepati janji mutasi. Dulu janjinya mutasi akan dilakukan setiap tahun, tapi pada kenyataannya mutasi cuma dilakukan dua kali, tahun 2012 dan 2013," katanya ketika ditemui di Dindik Surabaya, Kamis (2/7/2015).

Menurut guru mata pelajaran Kewarganegaraan di SMAN 16 Surabaya itu, tidak berlanjutnya lagi mutasi pada tahun 2014 dan 2015 ini tidak adil dan justru memperlihatkan inkonsistensi Dindik dalam menentukan kebijakan pendidikan di Surabaya.

Jikan ada mutasi pada tahun 2014 dan 2015 itu pun atas permintaan guru sendiri. Padahal, awalnya Dindik membuat kebijakan mutasi guru bertujuan untuk penyegaran terhadat proses pembelajaran.

Namun, pada kenyataannya Najikh menuding bila mutasi yang diadakan dinas ini terkesan memarginalkan antar sesama guru.

"Gambarannya guru yang dimutasi pada tahap satu dan dua itu guru-guru yang bermasalah,"jelasnya.

Efeknya yakni ketika di tempat atau sekolah baru, guru-guru yang dimutasi itu dianggap guru kelas dua atau tidak profesional.

Ironis lagi, guru senior di sekolah baru seringkali mendiskriminasikan guru mutasi. Baik diskriminasi sikap maupun waktu jam pelajaran.

"Guru-guru senior jadi raja kecil dan sok jadi penguasa. Kita yang baru dilihat sebelah mata," kata guru mantan SMAN 16 Surabaya itu.

Hal itu dialami Najikh sendiri. Di SMAN 19, Najikh mengajar Kewarganegaraan yang merupakan mapel linearnya dengan waktu 24 jam. Akan tetapi, di SMAN 16 Surabaya dia harus mengajar dua mapel yakni PPKN dan Sejarah. Padahal, sejarah bukanlah disiplin ilmu atau kemampuan Najikh.

Hal yang sama juga dialami oleh guru olahraga, SMKN 1 Surabaya, Catur Budiono. Sejak dimutasi ke SMKN 1 Surabaya pada tahun 2013 lalu, jam mengajarkan berkurang.

Dia mengaku mengalami tekanan psikis karena guru-guru lama seringkali melakukan diskriminasi terhadapnya.

Misalnya, terhadap kegiatan yang tidak mengikutkan guru guru mutasi baru. "Dindik tidak pernah memperhitungkan kebijakan mutasi yang imbasnya kepada psikis guru. Lihat kan hasil Unas (ujian nasional) dan US (ujian sekolah) di Surabaya yang anjlok. Mungkin ini adalah salah satu efek kebijakan mutasi," ungkap Catur.

Halaman 1/2
Tags
tata usaha
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved