Berita Malang Raya
Menyelamatkan Sisa-sia Kejayaan Pabrik Gula di Malang
Satu lokomotif akan ditaruh di Museum Angkut dan satu lagi ditaruh di Pegunungan Bromo, kemudian satu lagi akan dibuat rumah makan.
Penulis: Adrianus Adhi | Editor: Wahjoe Harjanto
SURYA.CO.ID | MALANG - Dua lokomotif kereta bermesin uap buatan Tahun 1823 terparkir rapi di halaman rumah Abdul Manaf Jl Ki Ageng Gribig, Kota Malang, Selasa (23/6/2015).
Kondisi kereta ini sangat memprihatinkan. Catnya sudah usang dan disana-sini terlihat sudah berkarat. Padahal benda ini menjadi saksi bisu kejayaan pabrik gula di Malang.
Selasa (23/6/2015) sore, empat pekerja terlihat sibuk membetulkan satu lokomotif kuno. Mereka mengelas beberapa bagian kereta yang telah berlubang karena karat, membetulkan besi kereta yang telah bengkok, serta mengecat agar tampilan lokomotif terlihat baru.
Di tengah kesibukan pekerja ini, Abdul Manaf terlihat mengamati satu lokomotif kuno bermesin uap. Lokomotif ini berada di depan lokomotif diesel yang sedang diperbaiki para pekerja tadi. Kondisi lokomotif ini mirip dengan lokomotif yang sedang diperbaiki tadi. Sudah rusak.
Kepada Surya, Manaf menerangkan, lokomotif berwarna hitam itu didapat dari pabrik gula di Kabupaten Malang. Total ada tiga lokomotif yang dibeli pada tiga bulan lalu. Dua lokomotif bermesin uap dan satu bermesin diesel. Lokomotif bermesin diesel kini sedang diperbaiki.
Lokomotif yang dibeli ini dibuat pada abad ke 19, sekitar Tahun 1800-an. Hal itu diketahui lewat plakat mesin lokomotif yang masih terpasang di sisi kiri depan kereta, tak jauh dari pintu masuk kemudi kereta, Lindeteves Stokvis Semarang.
Dibawah tulisan itu, ada informasi anak cabang perusahaan baja terbesar di Hindia Belanda, yaitu Soerabaja, Medan, Batavia, Makassar, Tegal, Bandoeng, Djokja.
Ada pula nama Amsterdam dan New York di plakat itu. Maksudnya juga untuk menjelaskan bahwa Lindeteves Stokvis yang berkedudukan di Semarang, memiliki anak cabang di dua kota tersebut.
Di bagian kemudi, terpasang plakat baja dengan informasi yang lain lagi. ‘Henschel & Sonn. 18 Mph, Cassel 1823, 12 ATM’. Plakat berukuran 15x 10 centimeter ini menjelaskan informasi terkait asal mesin lokomotif tadi.
Henschel & Sonn merupakan perusahaan transportasi asal Jerman yang didirikan Georg Christian Carl Henschel dan anaknya, Carl Anton Henschel. Perusahaan ini tidak hanya membuat mesin-mesin transportasi, tetapi juga senjata.
Dalam plakat Henschel & Sonn ini pula diketahui bahwa kereta ini dibuat pada Tahun 1823. Walau demikian, kereta ini terlambat tiba di Hindia Belanda lantaran rel kereta api baru dibangun Tahun 1867.
Di Malang, rel kereta api baru ada pada Tahun 1888. Saat itu rel kereta di Malang baru menghubungkan Surabaya-Sidoarjo. Pembangunan rel dilanjutkan lagi sampai Pasuruan pada Tahun 1899.
Dari catatan sejarah Indonesia, kereta sudah menjadi sarana transportasi favorit warga Hindia Belanda pada tahun-tahun itu. Tidak hanya warga, pabrik-pabrik gula di Hindia Belanda juga kepincut memiliki kereta sendiri.
Tak diketahui, berapa biaya yang harus perusahaan bayar untuk mendatangkan lokomotif dan kereta untuk mengangkut gula atau tebu. Meski demikian, hingar bingar kejayaan pabrik gula di Hindia Belanda kemudian redup setelah kemerdekaan.
Saat itu Soekarno meminta agar seluruh perusahaan milik Belanda agar dinasionalisasikan, termasuk pabrik gula. Sejak itu kisah lori dan lokomotif milik pabrik gula berakhir.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/hayu17_20150623_204311.jpg)