Rabu, 22 April 2026

Universitas Kristen Petra Surabaya

Puluhan Mahasiswa Surabaya Berlomba Jual Souvenir ke Turis Asing di Bali

“Harga gelang di Pasar Sukowati Rp 5.000 tapi kami tawar jadi Rp 1000. Kami akan jual lagi ke turis Rp 10.000 per bijinya,” ungkap mahasiswi ini.

Penulis: Magdalena Fransilia | Editor: Yuli
magdalena fransilia
Para mahasiswa Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya saat di Bali. 

SURYA.co.id | DENPASAR - Peluang menjadi pengusaha kreatif dan inovatif mulai dilirik kaum muda. Berawal dari usaha bisnis rumahan ternyata dapat membuahkan hasil yang tak terduga. Tentunya hal ini perlu dibarengi manajemen strategi yang tepat dan personal branding yang kuat.

Untuk itulah sangat penting bersentuhan langsung dengan sentra industri dan merasakan sensasi bisnis hand made sesungguhnya.

Hal ini pula yang berusaha dijajal puluhan mahasiswa Universitas Kristen Petra (UKP) Surabaya. Mengangkat tema planning your own personal branding, mereka berkesempatan mengunjungi lima sentra produksi lokal di Bali.

Agar bisa menjangkau kelima tempat tersebut terlebih dulu panitia dari pusat karir UKP mewajibkan mereka yang terbagi dalam tim untuk melakukan negosiasi ke sopir angkot di terminal Batu Bulan-Gianyar, Bali.

"Memang kami biarkan mereka mandiri, merasakan susahnya negosiasi dan pentingnya memakai strategi yang tepat untuk mendapat apa yang diharapkan," ungkap Jessie Monika, koordinator Career Camp city race 2015. Acara dwitahunan ini dilakukan selama 5 hari pada 19-24 Juni 2015.

Dari sinilah terlihat tim yang kreatif dan mampu menawar angkot dengan harga paling rendah diantara 5 tim lainnya.

"Saat kami mau naik, di dalam angkot sudah ada turis asing. Kami dikasih harga Rp 300 ribu tapi kami tawar jadi Rp 200 ribu, syaratnya harus antar bule itu dulu ke Ubud," ungkap Sidley Yeremia Liang Key, peserta semester 6 Program Studi Managemen Keuangan Fakultas Bisnis UK Petra Surabaya.

Imelda Nathania (26) mengatakan, tim yang di mentorinya merupakan satu-satunya tim yang mampu berinteraksi dan berbagi angkutan dengan penumpang yang tak dikenal. "Kalau kelompok lainnya dapat harga rata-rata Rp 250 ribu tanpa berbarengan dengan orang asing," ungkapnya.

Tim-tim yang berisi belasan orang itu mengunjungi kelima lokasi yang menjadi sasaran city race di Bali yakni Pusat Kerajinan Songket dan Tenun di Batu Bulan-Gianyar, Pusat Kerajinan Lontar di desa Bona-Gianyar, Wisata Kopi Bali dan Luwak di Singapadu-Gianyar, Pusat Kerajinan Lontar di desa Bona-Gianyar.

Kunjungan mereka ini dipadu dengan games seru seperti tebak cita rasa bubuk minuman saat berada di Negari Luwak Kopi Jalan Singapadu Gianyar, seperti membedakan rasa hot choco coffe, lemon grass tea, lemon tea, ginger coffee, gingseng coffee, Bali coffee.

Kemudian hunting barang di pasar Sukowati, di sinilah mereka memborong barang-barang yang akan dijual kembali di Pantai Kuta. Mereka berlomba mendapat harga paling murah untuk dijual dengan harga 10 kali lipat pada wisatawan.

Facebook Surya Online

“Harga gelang di pasar Sukowati Rp 5.000 per biji, tapi kami tawar jadi Rp 1000. Kami akan jual lagi dengan harga Rp 10.000 per bijinya,” ungkap Kristanti peserta semester 2 jurusan Akuntansi Bisnis.

Lokasi kunjungan lainnya, seperti Pusat kerajinan songket Putri Ayu di Batu Bulan, Gianyar. Mereka berkesempatan menjajal pewarnaan kain bali menggunakan alat semptor warna (air brush). Melihat puluhan wanita Bali menenun secara manual memakai alat tenun bukan mesin (ATBM).

Di desa Bona mereka juga berkesempatan menganyam bersama bocah-bocah bali yang masih SD. Selain itu juga ke Desa Beng untuk memborong kaos barong yang akan di jual lagi.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved