Jumat, 15 Mei 2026

Soerabaia Tempo Doeloe

Jembatan di Surabaya Ini Bisa Naik Turun, Tercanggih Zaman Kolonial

#SURABAYA - Ferwerda brug, jembatan canggih di Surabaya itu sekarang tak bisa naik turun lagi. Lihat juga video jembatan serupa di Belanda.

Tayang:
Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Yuli
De Ingenieur in Nederlandsch-Indie, 1941
Jembatan Petekan karya NV Machinefabriek Bratt saat masih berfungsi. Repro dari Majalah De Ingenieur in Nederlandsch-Indie, 1941. 

SURYA.oc.id | SURABAYA - Salah satu daya tarik wisata sejarah di Surabaya adalah Jembatan Petekan atau Ferwerda brug. Dinamakan Jembatan petekan karena dalam bahasa Jawa, petekan artinya “dipencet” atau “ditekan”.

Jembatan ini bisa dibuka dan ditutup ketika ada kapal lewat di Sungai Kalimas ini.

Jembatan tua ini merupakan salah satu warisan bersejarah dari zaman Belanda. Jembatan ini terletak di bagian utara kawasan Ujung, Surabaya.

Jembatan ini tadinya dipakai sabagai saranan penyeberangan antara Sungai Kalimas dan Selat Madura

Jembatan Petekan ini dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal 1900-an bekerjasama dengan perusahaan kontruksi NV Machinefabriek Bratt (lihat juga jembatan serupa yang terpelihara di Belanda, pada akhir naskah ini).

dfadfa

Yang menarik, konstruksi jembatan ini memang dibuat agar jembatan ini dapat dinaikkan turunkan, sehingga pada masa itu menjadi jembatan yang tergolong canggih.

Tak heran bila Jembatan Petekan perannya besar sekali saat itu dalam menggerakkan roda ekonomi Surabaya dan keluar pulau.

Bukan itu saja, daerah lain yang berada di sekitar Jembatan Petekan di Jalan Jakarta, atau di bagian Utara dari Kota Surabaya ini pun terimbas dan menjadi berkembang.

Sebut saja kawasan Kembang Jepun , Ampel, Krembangan serta daerah lainnya ikut menuai imbas dari ramainya kapal-kapal yang singgah.

Jembatan Petekan ini berfungsi untuk melayani kapal-kapal dagang yang menuju atau masuk Surabaya dan sebaliknya.

Kapal-kapal dagang yang menuju dan meninggalkan Surabaya dari sungai Kalimas pasti melewati jembatan ini.

Jika kapalnya terlalu besar, jembatan ini bisa dibuka setelah kapal lewat jembatan bisa diturunkan kembali.

Nah naik turunnya jembatan ini dengan cara ditekan atau dipetek (bahasa Jawa). Hingga sekarang, jembatan yang bisa naik dan turun dengan cara dipetek ini dikenal dengan nama Petekan atau Jembatan Petekan.

Tak jauh dari Jembatan Petekan ini terdapat markas armada wilayah Timur, atau mako Armatim.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved