Video
VIDEO - Pengakuan Soal Tes Keperawanan Calon Anggota TNI
VIDEO HEBOH - "Suami saya perwira TNI ALA. Kami menikah 2008. Jelang menikah, saya ikut tes, termasuk tes keperawanan itu," kata istri perwira itu.
Penulis: Aji Bramastra | Editor: Yuli
SURYA.co.id - Media Inggris, Daily Mail, merilis berita kurang sedap seputar pelanggaran hak asasi manusia dalam tes penerimaan masuk calon anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI), pada Kamis (14/5/2015), hari ini.
Para perempuan Indonesia yang ikut tes masuk militer diduga harus mengikuti tes 'dua jari' untuk mengetahui mereka masih perawan atau tidak, pernah sanggama atau tidak.
Hal ini diungkap oleh organisasi Human Rights Watch (HRW), setelah mendengarkan pengakuan dari calon peserta dan seorang perempuan dokter yang terlibat dalam tes itu.
Wawancara itu bisa dilihat dalam video di atas, yang beredar di YouTube, pada Kamis (14/5/2015) hari ini.
Dalam video tersebut, seorang wanita yang wajahnya dirahasiakan, mengaku sebagai peserta tes masuk TNI yang diadakan pada tahun 2013 di Bandung.
Menurut HRW seperti lansir Daily Mail, Kamis (14/5/2015), dokter itu mengatakan para peserta tes diminta telentang dan mengangkang seperti posisi perempuan hendak melahirkan.
Lalu, kata dokter itu, dua jari dimasukkan ke vagina untuk mengetahui apakan selaput dara mereka masih utuh atau tidak. Hal yang sama dilakukan pada anus.
"Pada 2008, saya melakukan sendiri hal itu. Para perempuan muda itu sepenuhnya tidak ingin berada dalam posisi seperti itu, yang sangat terbuka," kata si dokter.
"Butuh upaya (keras) untuk membuat mereka mau (menjalani tes keperawanan itu. Itu bukan cuma penghinaan, tetapi juga penyiksaan. Akhirnya saya putuskan untuk tidak melakukannya lagi," kata dokter itu lagi.
HRW mengklaim telah melakukan penelitian yang mengungkap bahwa tiga matra TNI, Angkatan Darat, Angkatan Laut dan Angkatan Udara telah melakukan uji keperawanan seperti yang dimaksud.
Bahkan tes itu juga diberlakukan kepada semua tunangan para perwiranya.
Daily Mail juga mengutip keterangan Kapuspen TNI Mayjen Fuad Basya yang mengakui TNI menjalankan tes semacam itu, bahkan lebih jauh ketimbang yang diberlakukan pada rekrutmen Polri.
"Itu diberlakukan untuk mendapatkan orang-orang terbaik, dari sisi fisik dan mental," kata Fuad Basya kepada Fair Fax.
Seorang taruna akademi militer terpaksa menjalani tes keperawanan itu pada 2013 di Bandung. "Yang membuat saya terkejut adalah dokter yang menangani itu laki-laki," katanya.
"Perasaan saya campur aduk. Saya merasa terhina. Suasananya sangat menekan. Saya harap tes keperawanan itu tidak lagi digunakan di masa depan. Itu melanggar hak asasi perempuan," katanya.
Mayjen Fuad membantah tes itu diberlakukan juga untuk para tunangan perwira. Namun, HRW mendapatkan pengakuan seorang istri perwira diperlakukan seperti itu.