Reuni Kru Sang Saka Jaya 1996
Banyak Peristiwa Aneh Selama 16 Prajurit Berlayar Keliling 27 Negara
#SURABAYA - Saat kehabisan bekal di tenah samudera, tiba-tiba 8 ekor ikan jatuh di geladak kapal. Semua kru kapal sumringah, bisa makan lagi. Ajaib!
Penulis: Zainuddin | Editor: Yuli
SURYA.co.id | SURABAYA - Panglima Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim), Laksamana Muda TNI Darwanto tidak akan pernah melupakan kejadian pada 1996.
Bersama 16 kru KRI Arung Samudera (Arsa), Darwanto yang masih berpangkat Mayor harus keliling dunia dan singgah di 27 negara.
19 tahun telah berlalu, Darwanto mengajak reuni mantan kru KRI Arsa, Minggu (3/5/2015) siang. Reuni ini digelar diatas KRI Arsa dengan mengarungi Selat Madura sekitar lima jam.
Sebagaimana saat keliling dunia dalam Operasi Sang Saka Jaya 1996 lalu, para kru juga mengemudikan kapal, membentangkan layar, dan melakukan aktivitas sebagaimana biasa.
Reuni tidak hanya diikuti mantan kru KRI Arsa yang ikut dalam operasi itu. Kru KRI sekarang pun ikut dilibatkan dalam reuni.
Peserta reuni diajak melakoni aktivitas sebagaimana 19 tahun silam. Bahkan makanan yang disantap pun hampir sama, yaitu sayur asam, tempe, peyek, dan lalapan.
“Kami nostalgia dan menarik layar, sekalian memberi pelajaran pada kru baru,” kata Darwanto usai reuni.
Darwanto mengungkapkan mengarungi samudera tidak mudah. Selama keliling 27 negara, Darwanto dan kru kapal harus menghadapi badai dan ombak tinggi.
Terutama di Samudera Pasifik yang ketinggian ombaknya mencapai delapan meter, dan memiliki kedalaman sekitar 7.000 meter.
Ditanya kejadian paling mengesankan, Darwanto dan mantan kru kompak menjawab saat kehabisan bekal di Samudera Hindia.
Saat itu mereka hampir saja putus asa. Darwanto tiada henti-hentinya minta anggotanya agar selalu berdoa.
Tiba-tiba delapan ekor ikan terbang jatuh di atas geladak kapal. Kejadian ini membuat Darwanto dan kru kapal sumringah. Tanpa pikir panjang delapan ekor ikan terbang itu dimasak, dan disantap.
Kejadian ini juga disampaikan kepada kru KRI Arsa yang sekarang. Doa menjadi kunci utama keberhasilan mengemban misi negara.
Apalagi anak dan istri di rumah juga selalu mendoakan keselamatan ayahnya.
“Kami bisa hidup sampai sekarang karena doa. Makanya tadi kami Salat Dhuhur berjamaah, sama seperti kejadian 19 tahun lalu,” tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kri-banjarmasin-592-saat-bersandar-di-dermaga-koarmatim-surabaya_20150504_093359.jpg)