Liputan Khusus Teh AIDS
Jalan Keluar dari Cengkeraman HIV
Dia lah perempuan paling tangguh. Sudah digerogoti HIV, diabetes miletus (kencing manis), dan tumor ganas, masih saja tetap bisa tertawa.
Penulis: David Yohanes | Editor: Cak Sur
Dia lah perempuan paling tangguh. Sudah digerogoti HIV, diabetes miletus (kencing manis), dan tumor ganas, masih saja tetap bisa tertawa.
Bocah berusia tiga tahun itu asyik bermain di Poli Unit Perawatan Intermidiate Penyakit Infeksi (UPIPI) di RSUD Dr Soetomo. Ini poli tempat para penderita HIV/AIDS menyambung hidup.
Tingkah bocah itu kadang sedikit usil. Memainkan timbangan yang biasa digunakan pengidap HIV menimbang berat badan. "Kalau hari Selasa, kebanyakan yang kontrol itu pasien anak-anak,” tutur perempuan yang mengawasi bocah itu.
Perempuan 33 tahun itu biasa dipanggil Ade. Ia juga penderita HIV. Tapi hari itu tidak sedang antre obat. Ia berada di UPIPI untuk menjadi sukarelawan. Tugasnya membantu sesama, utamanya membantu membangkitkan kondisi psikologi pasien. “Kata orang, saya ini seperti model. Maksudnya model orang yang kena banyak penyakit tapi masih bertahan hidup,” katanya sembari tertawa.
Ade memang bukan pasien HIV biasa. Selain virus yang menggerogoti kekebalan tubuhnya itu, masih ada dua penyakit mematikan lain harus dihadapinya, yaitu tumor ganas dan diabetes .“Kata dokter, saya ini pasien pertama di Indonesia yang mengidap HIV dengan tumor ganas,” ucap Ade enteng.
Lagi-lagi tawa renyahnya menyusul. Tampilan Ade sama sekali tidak memperlihatkan raut muram atau sedih. Di depan para ODHA, ibu tiga anak selalu tampil ceria dan menghibur. Sesekali bicara sambil tertawa ngakak. “Rugi saya punya Allah, kalau saya bersedih. Saya lebih bangga mati melawan penyakit, dari pada mati pasrah,” ucapnya.
Ade terdeteksi menderita diabetes saat ia melahirkan putri keduanya. Beberapa tahun kemudian, saat melahirkan putri ketiganya, penyakit ganas kembali diketahui bersarang di tubuhnya. Dua penyakit sekaligus, tumor dan HIV. Penyakit yang terakhir ini diketahui berasal dari suaminya. Sang suami kini sudah meninggal,
Saat diketahui, HIV di tubuh Ade sudah sudah masuk stadium dua. Sementara tumor menyerang di bagian leher, ketiak dan selangkangan. Kondisi tersebut membuat Ade berulang kali harus keluar masuk ruang perawatan.
Untuk melawan tumor ganas tersebut, tim medis memperkirakan butuh 40 kali kemoterapi. Di saat bersamaan, Ade juga harus mengonsumsi antiretroviral (ARV), untuk melawan virus di dalam tubuhnya. Nahas baginya, dua perlakuan medis ini saling tertolak belakang.
Hasil dari kemo terapi kurang efektif, karena efek obat ARV. Tidak ada pilihan bagi tim medis, untuk menghentikan ARV. Kini Ade terus dipantau oleh dr Erwin Astha Triyono SpPD yang membawahi UPIPI RSUD Dr Soetomo. “Dokter Erwin banyak membantu saya. Bahkan untuk mendapatkan BPJS, juga atas bantuan beliau,” ucap Ade.
Perempuan berjilbab ini kini seolah relawan aktif di UPIPI. Dari hari Senin hingga Kamis, Ade selalu hadir untuk mendampingi para ODHA. Gerakannya lincah dan ngomongnya yang ceplas-ceplos membuatnya mudah akrab.
Menjadi pendamping ODHA sudah dilakukan sejak tahun 2005. Ketika itu, Ade lebih banyak aktif di Yogyakarta. Di tahun yang sama, Ade pernah melakukan cek HIV dan dinyatakan negatif.
Kini Ade menjadi penyemangat yang efektif bagi kawan-kawannya. Banyak ODHA yang mulai putus asa, karena menganggap HIV akhir dari segalanya. Namun ketika melihat penderitaan Ade, mereka kembali bersemangat dan kembali bangkit. “Mereka hanya mengidap virus HIV. Saya malah ada tiga penyakit di tubuh saya, tapi tetap optimistis. Karena itu saya berusaha membangkitkan mereka yang sudah mulai drop,” ungkapnya.
Ade banyak menyaksikan, pada ODHA mengalami perubahan yang sangat berarti. Yang awalnya mereka putus asa, bisa bangkit dan menakhlukan virus yang menguasainya. Bahkan mereka sudah bisa hidup normal, seolah tidak mempunyai gangguan kesehatan.
Dengan rutin mengonsumsi ARV, terbukti virus HIV bisa dilumpuhkan. Bahkan sampai pada tahap tidak terdeteksi lagi.
Karena itu, sikap optimis diperlukan bagi setiap ODHA. “Penyakit apa pun, penyembuhannya ada di pikiran. Jangan biarkan ODHA putus asa dan menyerah pada sakitnya. Kuncinya berpikir positif dan disiplin meminum obat,” tandas Ade.
