Karya Mahasiswa UK Petra
Filosofi Wayang Potehi dalam Arsitektur Museum
Berkat karya itu, Sylvi berhak mewakili Indonesia di Asian Architectural Rookie’s Award di Dalian, Tiongkok 22-26 Oktober 2014.
Penulis: Mujib Anwar | Editor: Parmin
SURYA Online, SURABAYA - Filosofi tentang wayang potehi telah mengilhami Sylviana Putri, mahasiswa jurusan Arsitektur, Universitas Kristen Petra, Surabaya membuat arsitektur museum yang unik dan menarik.
Berkat karya itu, Sylvi berhak mewakili Indonesia di Asian Architectural Rookie’s Award di Dalian, Tiongkok 22-26 Oktober 2014.
Sebelum menjadi satu-satunya wakil Indonesia di ajang ini, dia lebih dulu masuk 10 besar karya terbaik yang harus mempresentasikan di hadapan juri, dari ratusan karya yang diseleksi.
Pesaingnya saat itu dari Universitas Indonesia, Universitas Bina Nusantara serta Universitas Sumatera Utara.
Karya Sylvi yang bertajuk “Museum Wayang Pou Te Hi (potehi)” dinilai paling menarik karena syarat nilai filosofi, memiliki misi menyelamatkan budaya serta bisa direalisasikan.
“Wayang potehi ini tidak hanya sebagai sarana sosial yakni hiburan masyarakat tetapi juga sarana untuk memuja nenek moyang,”kata Silvi dengan senyum lebar saat ditemui di kampusnya sehari sebelum berangkat ke Tiongkok, Selasa (21/10/2014)
Sayangnya, wayang ini kurang populer di mata masyarakat, termasuk masyarakat Tionghoa. Hal ini tidak terlepas dari larangan pemerintah Orde Baru terhadap pertunjukan wayang ini karena sangat kental dengan budaya tionghoa. Akhirnya wayang potehi hanya sebagai sarana ritual yang tampil di tempat ibadah tridharma (klenteng).
“Padahal wayang ini hasil akulturasi budaya tionghoa dan Indonesia,”kata Gadis kelahiran 9 Juli 1992.
Menurut Sylvi, wayang ini memang hanya benda mati, tetapi terlihat seperti hidup. “Ada spirit yang tidak terlihat di dalamnya,”kata alumnus SMA Kristen Petra 2 Surabaya.
Untuk merepresentasikan sifat mati, Sylvi membuat arsitektur museumnya berbentuk kotak. Sementara sifat hidupnya diwujudkan dengan tambahan ruang-ruang berbentuk bola. Ada lima ruang berbentuk bola, terdiri satu mini theater dan empat lainnya ruang pameran.
Bola ini didesain berbagai variasi untuk represntasikan ritme dan disambungkan dengan tangga rem untuk representasikan bergerak. Pada bagian boal yang kelihatan dari luar dibuat massif (tidak transparan), sementara bagian bola yang masuk ruangan dibuat transparan.
Pada siang hari, kondisi di dalam bila dibuat lebih gelap daripada di dalam kotak sehingga orang yang berada di ruang bola itu bisa melihat aktivitas yang ada di luarnya. Sementara pada malam hari, di ruang berbentuk bola dibuat lebih terang sehingga mereka yang berada di dalam ruangan besar akan melihat aktivitas I dalam ruang bola.
“Pintu masuk sengaja saya sembunyikan untuk merepresentasikan kematian dari potehi,”katanya.
Sylvi berharap karya arsitekturnya ini bisa direalisasikan di Surabaya agar budaya potehi ini terus dilestarikan.
“Saya sudah mempertimbangkan iklim dan cuaca di sini. Jadi tidak akan ada kendala jika arsitektur ini dibangun di Surabaya,”tegasnya.
Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok.
LIKE Facebook Page www.facebook.com/SURYAonline
FOLLOW www.twitter.com/portalSURYA