Liputan Khusus Stem Cell
14 Tahun Terkena Stroke, Windu Coba Terapi Stem Cell di Tiongkok
Namun Tiongkok mendahului negara lain, malah sudah mengomersialkan stem cell.
SURYA Online, SURABAYA - Selama 14 tahun Windu Hernowo (56) berjuang melawan stroke. Tanda-tanda kesembuhan muncul di Tiantan-Puhua Hospital, Beijing.
Sebagian anggota tubuhnya bisa berfungsi kembali setelah menjalani pengobatan stem cell.
Sayang, Windu tak mampu melanjutkan karena biayanya terlalu mahal.
Windu Hernowo masih ingat betul ketika penyakit mati rasa mulai menghampirinya.
Sore itu, tanggal 26 Desember 2000, Windu yang pulang kampung ke Dampit, sedang bersantai. Tiba-tiba ia merasakan kesemutan sebagian tubuhnya.
Windu menjabat Quality Health Safety Environment Manager di salah satu perusahaan asing sadar, ada tanda-tanda terkena CVA (Cerebrovascular Attack).
Dokter memvonis, Windu mengalami kerusakan sel otak kanan, di bagian internal capsule.
Laki-laki asal Dampit, Kabupaten Malang ini sempat melakukan terapi stem cell, untuk mengobati stroke yang dideritanya.
Saat itu juga Windu dibawa ke Rumah Sakir Lavallete di Kota Malang.
Pihak rumah sakit sempat melakukan tes fungsi gerak tubuh dan saraf motorik. Hasilnya, semua dinyatakan masih berfungsi bagus.
“Tapi setelah dirawat beberapa hari kondisi saya malah semakin buruk. Tapi saya masih harus rawat inap empat hari lagi,” kisahnya.
Atas permintaan konsultan, Windu dirujuk agar dirawat di Jakarta. Namun pada akhirnya dirujuk ke Surabaya, dengan alasan lebih dekat.
Kondisinya sudah sangat buruk. Sebagian tubuhnya sudah lumpuh.
Selama 29 hari Windu dirawat di RS Internasional Surabaya (kini RS Premier Surabaya).
Laki-laki yang aktif di Himpunan Peduli Stroke ini tidak juga mengalami kemajuan. Windu kemudian pindah ke Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta.